Kekeringan di Tangsel meluas ke 25 titik dan berdampak pada 599 kepala keluarga. BPBD hanya mengoperasikan 4-6 truk tangki per hari.
Aktual Tangerang – Kekeringan di Kota Tangerang Selatan semakin meluas hingga mencapai 25 titik terdampak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel mencatat sedikitnya 599 kepala keluarga terdampak kondisi tersebut.
Kebutuhan air bersih pun terus meningkat seiring bertambahnya wilayah yang mengalami kekeringan.
Namun, BPBD Tangsel menghadapi keterbatasan armada tangki untuk mendistribusikan air kepada masyarakat terdampak.
Komandan Peleton BPBD Tangsel Dian Wiryawan mengatakan kekeringan diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober.
“Untuk saat ini kami memprediksi sampai akhir Oktober,” kata Dian, Senin (14/9/2026).
Menurut Dian, persoalan penanganan kekeringan tidak hanya menyangkut ketersediaan air bersih. Kemampuan mendistribusikan air ke seluruh titik terdampak juga menjadi kendala utama BPBD.
Saat ini, BPBD Tangsel hanya mampu mengoperasikan sekitar empat hingga enam truk tangki setiap hari. Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan pertambahan titik kekeringan di lapangan.
“Saat ini jumlah titik terdampak kekeringan semakin bertambah, karena BPBD Tangsel terkendala mobil truk tangki air dalam pendistribusian, hanya 4–6 truk per harinya,” ujar Dian.
Selain armada, BPBD juga menghadapi kendala ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).
BBM diperlukan untuk menunjang operasional kendaraan selama pendistribusian air bersih berlangsung.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, distribusi air bersih tetap dilakukan setiap hari.
Dalam dua pekan terakhir, BPBD rata-rata menyalurkan 29.000 hingga 44.000 liter air setiap hari. Air tersebut didistribusikan ke sejumlah wilayah yang mengalami dampak kekeringan.
Pasokan air diperoleh dari PDAM Tirta Cisadane Serpong dan Sinarmas Land BSD.
Air dari kedua sumber tersebut kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sejumlah Instansi Bantu Armada Tangki
BPBD Tangsel tidak bekerja sendiri dalam mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak. Sejumlah lembaga dan instansi turut menyediakan kendaraan tangki untuk membantu distribusi.
Armada yang masih aktif dalam dua pekan terakhir berasal dari sejumlah pihak.
Bantuan tersebut meliputi truk air Sinarmas dan truk air TNI AD Koramil Serpong. Kemudian terdapat truk air Dinas Lingkungan Hidup Tangsel dan kendaraan pemadam kebakaran Tangsel.
Bantuan lainnya berasal dari truk air Cipta Karya TR Tangsel.
UDD PMI Tangsel juga membantu menggunakan mobil pikap yang dilengkapi toren.
Sebelumnya, sejumlah lembaga lain turut membantu penanganan kekeringan di Tangsel. Namun, sebagian bantuan tersebut kini sementara berhenti atau memasuki masa jeda.
Dian mengatakan BPBD mengerahkan personel untuk mendampingi setiap kendaraan tangki yang beroperasi.
“Untuk personel dari BPBD per harinya yang mendampingi mobil truk tangki air sekitar 10-13 orang, di luar driver dan crew dari mobil tangki air masing-masing lembaga,” jelasnya.
Dua Lembaga Rutin Bantu Sejak Juli
Dukungan dari pihak luar menjadi bagian penting dalam menjaga distribusi air tetap berjalan. Dian menyebut dua lembaga rutin membantu BPBD sejak Juli hingga 11 September 2026.
Bantuan tersebut diberikan secara mandiri untuk mendukung kebutuhan operasional distribusi air.
Dukungan mencakup penyediaan kendaraan tangki hingga kebutuhan BBM selama operasional.
“Untuk dua lembaga dari bulan Juli sampai 11 September ini membantu kami setiap harinya murni dari mereka sendiri, mulai dari mobil dan BBM-nya,” ungkap Dian.
Selain kedua lembaga tersebut, BPBD juga sempat menerima bantuan dari BBWSC. Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSC) turut membantu distribusi air secara mandiri.
Namun, dukungan BBWSC mulai berkurang dalam dua pekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi karena BBWSC turut membantu penanganan kekeringan di wilayah kabupaten lainnya.
“Walaupun ada juga dari BBWSC yang sudah membantu kami juga murni dari mereka sendiri, cuma untuk dua minggu terakhir ini BBWSC mulai mengurangi bantuannya karena mereka juga membantu kecamatan dari kabupaten lainnya,” ucap Dian.
BPBD Minta Warga Hemat Air
Keterbatasan armada menjadi tantangan BPBD ketika jumlah titik kekeringan terus bertambah.
BPBD harus membagi armada yang tersedia agar distribusi tetap menjangkau berbagai wilayah terdampak.
Sementara itu, kebutuhan air masyarakat terus meningkat setiap harinya. Distribusi harian saat ini berkisar antara 29.000 hingga 44.000 liter air bersih.
Dian meminta masyarakat terdampak memahami keterbatasan distribusi yang sedang dihadapi BPBD.
“Kami mohon masyarakat terdampak dapat memaklumi kami,” ujarnya.
BPBD juga mengimbau warga menghemat penggunaan air di tengah ancaman kekeringan. Imbauan tersebut berlaku bagi warga sekitar empat kelurahan yang telah masuk wilayah terdampak.
Masyarakat yang belum mengalami kekeringan diminta tidak menggunakan air secara berlebihan. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang semakin meluas.
Warga diminta menggunakan air seperlunya dalam aktivitas sehari-hari.
“Untuk masyarakat di sekitar empat kelurahan yang sudah terdampak tetapi di rumahnya atau lingkungannya belum mengalami kekeringan, kami menghimbau untuk tidak boros dalam pemakaian atau penggunaan airnya,” tutup Dian. (*)








Leave a Reply