Kasus ISPA Tangsel Tembus 148 Ribu, Serpong Tertinggi

Adi Subchan - 09 September 2026

Kasus ISPA di Tangsel mencapai 148.370 hingga pekan ke-35. Serpong menjadi wilayah dengan kasus tertinggi sebanyak 38.366 kasus. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)
Kasus ISPA di Tangsel mencapai 148.370 hingga pekan ke-35. Serpong menjadi wilayah dengan kasus tertinggi sebanyak 38.366 kasus. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

Kasus ISPA di Tangsel mencapai 148.370 hingga pekan ke-35. Serpong menjadi wilayah dengan kasus tertinggi sebanyak 38.366 kasus.

Aktual Tangerang – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Tangerang Selatan mencapai 148.370 kasus sepanjang 2026.

Data tersebut tercatat hingga pekan ke-35 berdasarkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan Tangsel.

Kecamatan Serpong menjadi wilayah dengan kasus ISPA tertinggi, mencapai 38.366 kasus. Pamulang berada di urutan berikutnya dengan 27.293 kasus.

Kemudian, Ciputat mencatat 26.895 kasus ISPA sepanjang periode tersebut. Pondok Aren menyusul dengan 22.170 kasus, sedangkan Ciputat Timur mencapai 19.694 kasus.

Sementara itu, Setu mencatat 8.637 kasus dan Serpong Utara sebanyak 5.315 kasus.

Data tersebut menjadi dasar Dinkes Tangsel memantau persebaran dan beban kasus ISPA.

Kepala Dinas Kesehatan Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan data tersebut menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

“Data tersebut menjadi dasar pemantauan beban kasus dan penentuan wilayah yang memerlukan perhatian lebih lanjut,” ujar Allin, Rabu (9/9/2026).

Baca Juga :  MRT Lebak Bulus-Serpong Masih Sebatas Rencana

Kasus ISPA Naik Hampir 20 Persen

Selain angka kumulatif yang tinggi, kasus ISPA Tangsel juga meningkat pada pekan terakhir.

Pada pekan ke-35, tercatat 5.802 kasus ISPA. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pekan ke-34 yang mencapai 4.844 kasus. Artinya, terdapat tambahan 958 kasus dalam satu pekan.

Kenaikan tersebut mencapai sekitar 19,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Kondisi ini menjadi perhatian Dinkes Tangsel karena terjadi saat pemantauan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Namun, Dinkes belum memastikan kenaikan ISPA tersebut berkaitan langsung dengan paparan abu vulkanik.

Allin meminta hubungan antara peningkatan kasus dan abu vulkanik dibaca secara hati-hati.

“Peningkatan tersebut belum dapat disimpulkan secara langsung sebagai dampak paparan abu vulkanik,” ungkap Allin.

Menurut Allin, tren peningkatan ISPA sudah terjadi sebelum kejadian sebaran abu vulkanik. Karena itu, peningkatan kasus dapat dipengaruhi berbagai faktor lainnya. Faktor tersebut antara lain perubahan cuaca dan kualitas udara.

“Tren ISPA telah menunjukkan peningkatan sebelum kejadian dan dapat dipengaruhi faktor lain, termasuk perubahan cuaca dan kualitas udara,” ujar Allin.

Dinkes Pantau Kualitas Udara

Untuk memastikan perkembangan situasi, Dinkes melakukan surveilans kasus dan analisis tren. Analisis tersebut dilakukan berdasarkan waktu dan wilayah persebaran kasus.

Dinkes juga memantau kesiapsiagaan puskesmas dan rumah sakit.

Pemantauan kualitas udara dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait.

Konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10 menjadi perhatian dalam pemantauan kualitas udara.

Baca Juga :  Gunung Anak Krakatau Erupsi Tujuh Kali, Warga Diimbau Pakai Masker

Hal itu bertujuan melihat kondisi udara dan mengantisipasi gangguan kesehatan. Gangguan tersebut berpotensi terjadi akibat paparan abu vulkanik.

Menurut Allin, kewaspadaan tetap diperlukan karena abu vulkanik dapat memengaruhi kesehatan. Dampak terutama dapat dirasakan pada sistem pernapasan masyarakat.

Mengacu Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor KL.01.02/A/17765/2026, paparan abu dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.

Gangguan tersebut meliputi iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, mengi, serta rasa berat di dada.

Paparan juga dapat menyebabkan sesak napas pada masyarakat yang terdampak.

Abu vulkanik berpotensi memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kondisi penderita penyakit paru lainnya juga berpotensi mengalami perburukan.

Selain saluran pernapasan, paparan abu dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit. Abu juga berpotensi mencemari sumber air dan pangan.

Kelompok Rentan Diminta Waspada

Dinkes Tangsel memberikan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan abu vulkanik. Kelompok tersebut mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, dan pekerja luar ruangan.

Masyarakat dengan asma, PPOK, penyakit paru, serta penyakit kronis juga masuk kelompok rentan.

“Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta masyarakat dengan asma, PPOK, penyakit paru dan penyakit kronis lainnya menjadi perhatian khusus,” ucap Allin.

Allin mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kondisi udara berdebu. Juga disarankan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

Perlindungan terhadap mata dan kulit juga perlu dilakukan saat udara berdebu. Selain itu, masyarakat diminta menjaga sumber air dan makanan tetap tertutup.

Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis ketika mengalami keluhan kesehatan.

“Apabila mengalami batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, mata merah atau nyeri, maupun keluhan yang semakin berat, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” tutup Allin. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini