Derita Pengungsi Banjir di Taman Cikande Tangerang

Adi Subchan - 17 January 2026

Pemkot Tangerang dukung normalisasi Sungai Cirarab. Normalisasi diharapkan kurangi banjir Periuk dan lindungi warga. (Foto: Aktual Tangerang/Robby Kurniawan/Ilustrasi)
Pemkot Tangerang dukung normalisasi Sungai Cirarab. Normalisasi diharapkan kurangi banjir Periuk dan lindungi warga. (Foto: Aktual Tangerang/Robby Kurniawan/Ilustrasi)

Banjir di Perumahan Taman Cikande, belum surut hingga hari kelima. Pengungsi menghadapi masalah kesehatan dan trauma anak.

Aktual Tangerang – Banjir merendam Perumahan Taman Cikande, Kabupaten Tangerang, Banten, sejak Senin (12/1/2026).;Puluhan warga terpaksa mengungsi dan menghadapi persoalan kemanusiaan yang semakin kompleks.

Hingga Jumat (16/1/2026), banjir belum surut dan rumah warga belum dapat dihuni kembali. Sebagian rumah masih terendam air setinggi 30 sentimeter hingga dua meter.

Kondisi posko pengungsian dinilai jauh dari kata layak dan nyaman bagi para pengungsi. Keterbatasan ruang memaksa perempuan tidur di teras tanpa dinding pelindung.

Sementara laki-laki tidur di bagian depan posko pengungsian dengan kondisi terbuka. Anak-anak tidur di dalam ruangan sempit berukuran sekitar dua kali tiga meter.

Para pengungsi hanya tidur beralaskan tikar tipis tanpa kasur dan bantal memadai. Perabot rumah tangga terlihat menumpuk di halaman posko pengungsian.

Kondisi tersebut berdampak pada kesehatan, terutama anak-anak dan lansia. Seorang pengungsi, Iis Intania, mengaku kesulitan beristirahat selama berada di posko.

“Kami tidur berjejer seperti ikan asin karena tempatnya sempit dan terbuka,” kata Iis.

Baca Juga :  BMKG: Sepekan ke Depan Tangsel Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

Menurutnya, anak-anak sering berpindah tidur karena ingin bersama orang tua. “Anak-anak biasanya di dalam, tapi sering minta tidur bareng orang tuanya,” ujarnya.

Selama lima hari mengungsi, anak-anak mulai mengalami keluhan kesehatan. “Mereka mengeluh sakit kepala dan gatal, terutama di bagian kaki,” ungkap Iis.

Selain kesehatan, trauma psikologis anak menjadi perhatian utama warga. “Anak-anak mulai gelisah, jenuh, dan memaksa ingin pulang ke rumah,” katanya.

Iis berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret menangani banjir tahunan tersebut.

“Warga sudah jengkel dan resah karena banjir seperti ini selalu terjadi setiap tahun,” keluhnya.

Baca Juga :  Disnaker Tangsel Buka Layanan Aduan Upah di Bawah UMK

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini