Robby Cahyadi, ST, MT, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Tangerang Selatan cerita detil seputar banjir dan pedestrian dalam program Aktual Coffee Morning
Aktual Tangerang – Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas SDABMBK berupaya keras mengantisipasi banjir, terutama saat cuaca ekstrim. Salah satunya adalah dengan menggelar Siaga Petugas, mulai dari petugas pintu air, pompa banjir, petugas penanganan tandon dan sungai. Kemudian siaga alat berat dan alat bantu sepanjang tahun.
Kadis SDABMBK Robby Cahyadi, ST, MT dalam bincang Aktual Coffee Morning menjelaskan terdapat 37 titik rawan banjir di Tangsel. Saat ini, pihaknya konsen dalam melakukan penanganan secara maksimal.
Robby Cahyadi menjelaskan Tangsel rawan banjir, terutama di wilayah sekitar Sungai Kali Angke dan anak-anaknya. Secara lokasi, keberadaan Kali Angke dan anak kali itu membelah wilayah Tangsel.
Adapun wilayah sekitar Kali Angke adalah wilayah Ciater, Cibenda, Serua, Kedaung, Ciputat, dan Kampung Cantiga.
“Kemarin kami gelar siaga petugas, dari petugas pintu air, pompa banjir, penanganan tandon, sungai, alat berat dan alat bantu. Kami sudah bekerja sepanjang tahun,” ujar Robby Cahyadi, ST, MT dalam Podcast Aktual Coffee Morning di Alam Sutera, Kota Tangerang, Kamis (13/11/2025).
Robby mencontohkan penanganan banjir setiap tahun di Perumahan Pondok Maharta, Pondok Aren. Ini merupakan kali ketiga penangangan maksimal dari SDABMBK. Pihaknya telah melakukan penanganan kolaboratif dengan menambah ketiggian tanggul hingga perbanyak jumlah unit pompa. “Tahun ini penggantian pintu air,” ujarnya.
Faktor Penyempitan Kali
Robby Cahyadi menguraikan salah satu penyebab banjir selain faktor hujan deras alias ekstrim adalah penyempitan kali. Robby menarik jauh kebelakang, tentang sejarah anak kali itu memiliki garis sepadan sungai sangat lebar.
Adapun jarak dengan bibir sungai itu mencapai sekitar delapan sampai 10 meter. Akan tetapi, kondisi saat ini berbeda jauh.
Situasi garis sepadan sungai semakin menyempit. “Sejarah Anak kali angka itu lebar-lebar, delapan sampai 10 meter.Sekarang 2 meter,”ujarnya.
Bukan hanya garis sepadan yang kian menyempit, akan tetapi terjadi perubahan aliran drainase yang menambah penyebab banjir tak bisa terhindarkan.
“Banyak perubahan aliran drainasenya, berbelok hingga patah,” ujarnya.








Leave a Reply