Ada 89 Kasus Campak Rubella di Kabupaten Tangerang, Kosambi Tertinggi

Adi Subchan - 01 March 2026

Dinkes Serang mencatat 500 kasus suspek campak awal 2026. Penurunan imunisasi saat pandemi COVID-19 disebut jadi penyebab utama. (Foto: Ist/Ilustrasi)
Dinkes Serang mencatat 500 kasus suspek campak awal 2026. Penurunan imunisasi saat pandemi COVID-19 disebut jadi penyebab utama. (Foto: Ist/Ilustrasi)

Kabupaten Tangerang mencatat 89 kasus suspek campak rubella 2025. Pemerintah terus tingkatkan imunisasi dan edukasi perilaku hidup bersih.

Aktual Tangerang – Kementerian Kesehatan menaruh perhatian besar terhadap kasus campak rubella (MR) di Indonesia.

Meski capaian imunisasi MR nasional tinggi, kasus campak muncul di wilayah cakupan rendah.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat 89 temuan suspek campak dan rubella sepanjang 2025.

Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, dr Hendra Tarmizi, menyatakan suspek tersebar di 12 kecamatan.

“Tertinggi ada di Kosambi dengan 12 kasus, dan 8 kasus di Teluknaga,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).

Hendra menambahkan, penyakit ini biasanya menyerang anak usia di bawah lima tahun (balita). “Semuanya balita, dan yang terkena suspek memiliki imunisasi campak yang bolong,” jelas Hendra.

Baca Juga :  Mensos Gus Ipul Pastikan Lansia Tangerang Dapat MBG

Meski begitu, Hendra menilai penyebaran MR di Kabupaten Tangerang masih bisa dikendalikan.

Dia menegaskan Dinkes Kabupaten Tangerang akan terus gencar melakukan imunisasi sesuai arahan Kemenkes.

“Ini arahan Kemenkes,” kata Hendra terkait program imunisasi lanjutan.

Edukasi Perilaku Hidup Bersih

Kemenkes menegaskan imunisasi campak rubella merupakan langkah paling efektif mencegah penularan campak.

Plt. Dirjen P2, dr Andi Saguni, mengatakan capaian imunisasi nasional terus ditingkatkan.

“Pencegahan campak bergantung pada imunisasi lengkap dan merata. Rantai penularan bisa dihentikan,” tegas dr Andi.

Kemenkes juga menguatkan imunisasi rutin, kejar, dan tambahan di wilayah cakupan rendah.

Konsultan Penyakit Infeksi Anak RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, dr Mulya Rahma Karyanti, menekankan pentingnya data imunisasi detail.

“Capaian nasional sudah melampaui target, tapi kasus muncul jika ada desa cakupan rendah,” jelas dr Mulya.

Selain imunisasi, pemerintah memperkuat edukasi perilaku hidup bersih dan kewaspadaan terhadap gejala campak.

Baca Juga :  Pendaftaran Calon Paskibraka Tangsel Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Tentang Campak Rubella

Campak, atau Morbili/Measles/Gabagen, disebabkan virus RNA genus Morbilivirus dan sangat menular.

Sembilan puluh persen anak tanpa kekebalan akan terserang campak. Vaksinasi telah mengubah epidemiologi penyakit di negara berkembang.

Rubella, atau campak Jerman, menyerang kulit dan kelenjar getah bening, biasanya ringan pada anak. Namun rubella dapat menyebabkan komplikasi serius bagi ibu hamil, termasuk keguguran dan cacat lahir.

Penularan MR terjadi melalui percikan ludah saat batuk, bersin, atau berbicara.

Gejala campak rubella meliputi demam, bintik kemerahan, ruam, pembengkakan kelenjar, sakit kepala, nyeri otot, tenggorokan sakit, dan mata merah.

Komplikasi campak dapat berupa diare berat, infeksi paru-paru, hingga kematian.

Rubella pada ibu hamil bisa menyebabkan bayi lahir mati, cacat jantung, kelainan mata, ketulian, dan keterlambatan tumbuh kembang. ***

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini