Tiga Strategi Atasi Krisis Sampah Tangsel

Adi Subchan - 18 December 2025

Pemkot Tangsel menetapkan darurat sampah. Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan mewajibkan lurah dan RW mengaktifkan TPS3R dan bank sampah. (Foto: IDN Times)
Pemkot Tangsel menetapkan darurat sampah. Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan mewajibkan lurah dan RW mengaktifkan TPS3R dan bank sampah. (Foto: IDN Times)

Direktur Next Policy Yusuf Wibisono mengusulkan tiga strategi struktural untuk menyelesaikan persoalan sampah di Tangsel.

Aktual Tangerang – Persoalan sampah di Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi perhatian publik. Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono, menilai masalah sampah perlu penanganan strategis dan jangka panjang.

Menurut Yusuf, persoalan sampah tidak hanya terjadi di Tangsel. Ia menyebut hampir seluruh kota besar di Indonesia menghadapi masalah serupa.

“Jakarta, Depok, Bandung, dan kota lain juga menghadapi persoalan sampah,” ujar Yusuf kepada Aktualtangerang.com, Kamis (18/12/2025).

Yusuf menegaskan, penanganan sampah tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan jangka pendek. Ia menilai solusi sementara hanya menunda persoalan utama.

“Solusi jangka pendek hanya menambah TPA atau kapasitasnya,” kata Yusuf.

Ia menyebut kerja sama antar daerah juga kerap dijadikan solusi cepat. Namun, langkah tersebut dinilai memerlukan biaya tambahan tanpa menyelesaikan akar masalah.

Menurut Yusuf, pola penanganan sampah pemerintah daerah masih konvensional. Sampah hanya diangkut lalu dipindahkan ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Pemerintah cuma sediakan truk dan petugas, lalu buang ke TPA,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemkot Tangsel Kewalahan Hadapi Persoalan Sampah
Sampah menggunung di kolong Flyover Ciputat hanya ditutup terpal. Warga dan pedagang terdampak bau. (Foto: Kompas.com)

Tiga Strategi Penanganan Sampah

Yusuf menyampaikan tiga strategi utama penanganan sampah. Strategi pertama adalah edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat.

Berdasarkan penelitian, mayoritas sampah berasal dari rumah tangga. Jenisnya didominasi sampah organik, seperti sisa makanan.

Di negara maju, sebagian besar sampah selesai dikelola di tingkat masyarakat. Kondisi ini berbeda dengan Indonesia yang masih bergantung pada petugas.

“Kesadaran masyarakat perkotaan di Indonesia masih sangat rendah,” katanya.

Yusuf mendorong edukasi pemilahan sampah sejak dini. Masyarakat diminta membedakan sampah organik dan nonorganik.

“Jika pemilahan efektif, pengelolaan sampah menjadi lebih efisien,” jelasnya.

Ia menilai pengolahan sampah organik relatif mudah dilakukan. Sampah dapat ditanam atau diolah menjadi pupuk. “Bisa juga dijadikan pakan ternak seperti budidaya maggot,” ujar Yusuf.

Menurutnya, langkah ini dapat mengurangi beban TPA hingga 70-80 persen. Namun, keterbatasan lahan menjadi kendala di wilayah perkotaan.

Strategi kedua adalah mendorong tanggung jawab produsen. Sampah kemasan dinilai berasal dari berbagai produk industri.

“Produsen harus dibebani tanggung jawab penanganan sampah,” tegas Yusuf.

Baca Juga :  Permohonan Maaf Wali Kota Tangsel Soal Sampah, Begini Katanya
Tumpukan sampah di salah satu bahu jalan di Ciputat, Tangsel, mengganggu kenyamanan warga. (Foto: Detik.com)

Ia menyebut sampah elektronik dan otomotif juga terus meningkat. Namun, belum ada kewajiban tegas kepada produsen.

Strategi ketiga adalah intervensi pemerintah melalui teknologi ramah lingkungan. Yusuf meminta pemerintah meninggalkan cara lama pengelolaan sampah.

Ia juga mendorong keterlibatan UMKM dalam pengolahan sampah. Sampah nonorganik dinilai memiliki nilai ekonomi jika didaur ulang.

Teknologi PSEL Habiskan Anggaran

Menanggapi teknologi PSEL yang dapat menjadi sampah menjadi energi listrik, Yusuf menilai teknologinya mahal.

Ia mempertanyakan efisiensi dan potensi subsidi pemerintah. “Jangan sampai seperti kereta cepat Whoosh yang masih disubsidi padahal sudah beroperasi,” ujarnya.

Yusuf menegaskan pengelolaan sampah memang membutuhkan kerja keras.

“Gerakan memilah sampah harus digencarkan dari tingkat RW. Siapkan bank sampah di setiap kelurahan atau RW,” pungkasnya.

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini