Gen Z Lebih Takut Enggak Punya Pacar daripada Menikah

Adi Subchan - 17 December 2025

Gen Z mulai ragu menikah karena trauma keluarga, patriarki, dan tekanan sosial terhadap perempuan, kata pengamat gender. (Foto:; Pexels/Ilustrasi)
Gen Z mulai ragu menikah karena trauma keluarga, patriarki, dan tekanan sosial terhadap perempuan, kata pengamat gender. (Foto:; Pexels/Ilustrasi)

Gen Z mulai ragu menikah karena trauma keluarga, patriarki, dan tekanan sosial terhadap perempuan, kata pengamat gender.

Aktual Tangerang – Generasi Z menunjukkan kecenderungan berbeda dalam memandang pernikahan dibanding generasi sebelumnya.

Sebagian Gen Z menilai pernikahan sebagai keputusan penuh risiko dan tidak selalu menjanjikan kebahagiaan.

Ketidakpastian kehidupan rumah tangga membuat sebagian anak muda enggan untuk menikah. Mereka memilih menikmati hidup secara mandiri tanpa dibebani konflik pernikahan.

Nadin (20), mengaku belum memiliki niat untuk menikah. Ia mengatakan pandangannya dipengaruhi pengalaman keluarga dan cerita di media sosial (medsos).

“Faktor keluarga cukup berpengaruh, ditambah cerita konflik rumah tangga di media sosial,” ujar Nadin.

Menurutnya, konflik yang dialami pasangan menikah mirip dengan masalah di keluarganya. Hal tersebut menimbulkan ketakutan jika kehidupan pernikahan tidak sesuai harapan.

Baca Juga :  Jaga Kebugaran Tubuh, 12 Tempat Jogging di Tangsel dan Serang

Luthfi, seorang gender specialist, menilai lingkungan keluarga berperan besar membentuk persepsi pernikahan.

“Keluarga menjadi contoh pertama bagaimana hubungan rumah tangga itu terbentuk,” kata Luthfi.

Ia menyebut konflik orang tua dan perceraian membuat generasi muda ragu menikah.

Selain Nadin, Adzra juga mengaku masih takut melangkah ke jenjang pernikahan. Adzra mengatakan ketakutannya muncul karena budaya patriarki dalam keluarganya.

“Setelah menikah, perempuan seperti kehilangan kuasa dalam rumah tangga,” ujar Adzra.

Ia mencontohkan beban pengasuhan anak lebih banyak ditanggung oleh perempuan.

Luthfi menambahkan, ketakutan menikah lebih banyak dirasakan oleh perempuan.

Baca Juga :  Singapura Larang Pelajar Gunakan HP di Sekolah

Menurutnya, perempuan menghadapi tuntutan sosial sebelum dan sesudah menikah.

“Perempuan terus ditanya soal menikah, punya anak, hingga cara mengasuh,” kata Luthfi.

Ia menilai kontrol sosial terhadap tubuh dan peran perempuan masih sangat kuat.

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini