Masyarakat bisa berkontribusi dalam antisipasi banjir dengan dua cara, yakni menjaga kebersihan sungai dan menerapkan konsep drainase modern
Aktual Tangerang – Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (Kadis SDABMBK) Kota Tangerang Selatan, Robby Cahyadi, ST, MT mengatakan penanganan banjir saat cuaca ekstrim harus dilakukan dengan cara ekstra.
Dalam bincang-bincang di Aktual Coffee Morning, podcast unggulan Aktual Tangerang, Kadis SDABMBK menekankan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak bersama dalam antisipasi banjir.
Robby memaparkan hasil kajian internal menunjukkan penyebab banjir di 37 titik lokasi rawan banjir wilayah Tangsel itu karena kekurangan area tampung air.
Kadis SDABMBK mencontohkan debit air di Kali Serua saat cuaca ekstrim itu di atas normal. Curah hujan normal, lanjut Robby mencapai 3.300 sampai 3.500 mili meter per tahun. Sehingga jika dibagi 12 menjadi sekitar 300 mili meter per bulan.
Sementara hujan ekstrim yang turun di Tangsel dalam waktu dua jam itu debit air mencapai 270 mili meter. “Jadi hujan satu bulan turunnya digabung dalam dua jam. Makanya tumpah ke permukiman,” ujar Robby Cahyadi.
Robby mengajak masyarakat terlibat aktif dalam mengantisipasi banjir. Caranya tidak sulit, yakni dengan menjaga kebersihan sungai serta menambah kapasitas penampungan air di lingkungan rumah masing-masing.
Apa Itu Drainase Modern?
Untuk poin kedua itu, Robby menyebut istilah konsep drainase modern. Sebelum menjelaskan tentang apa itu drainase modern, Robby mengungkapkan masalah yang terjadi di masyarakat adalah masih menggunakan konsep drainase lama.
Yakni banyak masyarakat yang masih membuang secepatnya air hujan ke saluran drainase, lalu ke badan air, situ dan tandon. “Ini konsep drainase lama, membuang air secepat-cepatnya dari area rumah ke luar, saluran drainase,” ujarnya.
Robby menjelaskan konsep drainase lama ini sudah tidak tepat lagi dengan kondisi lahan serapan air di Tangsel yang semakin terbatas. Warga harus beralih ke konsep drainase modern, yakni bagaimana menahan air selama mungkin sebelum masuk ke sungai.
Bagaimana caranya? Tentu saja dengan menampung air menggunakan bak yang bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau mencuci kendaraan.
Kemudian membuat sumur resapan di pekarangan sehingga air yang masuk ke saluran pembuangan/drainase hanya sisa yang tidak tertampung dalam bak atau sumur resapan.
Begitu pula dengan penampungan air dengan skala perumahan. Semua air hujan, kata Robby ditampung dalam kolam penampungan. Sungai hanya menampung air yang tidak tertampung dalam kolam.
“Artinya sungai hanya mendapat debit air hujan 50 atau 60 persen. 40 persen sudah retensi baik oleh serapan tanah atau upaya penampungan,” ujarnya.
Biaya Sumur Resapan Sederhana
Berdasarkan rekomendasi hasil kajian dengan kondisi Tangsel saat ini mewajibkan 100 ibu sampai 200 ribu sumur resapan. Dengan pembuatan sumur resapan sederhana, kedalaman 2 meter dengan kapasitas 2 kubik, itu biaya mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per sumur resapan.
“Kalau kita hitung biayanya tidak mungkin pemkot melakukan semua,” ujarnya.









Leave a Reply