Pedagang Puncak yang Terlupakan: Janji Manis di Rest Area Gunung Mas yang Kini Sepi
Di sebuah kios kecil di Rest Area Gunung Mas, Cisarua, Bogor, penjual makanan itu duduk termenung. Satu per satu barang dagangannya ia rapikan, bukan karena laku terjual, tetapi karena hari itu tak satu pun pembeli datang.
itu adalah satu dari ratusan pedagang Puncak yang digusur dari Jalan Raya Puncak sembilan bulan lalu. Kala itu, pemerintah Kabupaten Bogor menjanjikan rest area ini sebagai “rumah baru” lapak yang katanya lebih tertata, lebih manusiawi, dan lebih layak.
Tapi nyatanya, tempat yang dijanjikan penuh harapan itu kini justru jadi tempat yang penuh sunyi.
Dari Harapan Menjadi Kekosongan
Kios-kios di Rest Area Gunung Mas kini berdiri rapi. Tapi susunan yang indah dilihat mata itu tidak diikuti dengan kehidupannya. Deretan toko tampak seperti bangunan kosong, sunyi, berdebu, dan lambat laun ditinggalkan pemiliknya.
Dede Rahmat, Ketua Karukunan Wargi Puncak, tak bisa menyembunyikan rasa kecewa. Ia ingat jelas bagaimana relokasi itu dilakukan secara cepat, bahkan dramatis. Dikutip dari Pakaronline.com, saat Satpol PP datang, bangunan dibongkar. Mereka disuruh pindah ke sini dengan janji-janji. Tapi nyatanya, tempat ini bukan solusi.
Dari 250 pedagang Puncak yang sempat menempati kios di rest area, kini hanya tersisa 136. Sisanya memilih menyerah—ada yang kembali ke rumah, ada pula yang nekat kembali berjualan di pinggir jalan.
Kembali ke Pinggir Jalan
Sisi Jalan Raya Puncak nampak lagi barisan pedagang dengan payung warna warninya berdiri lagi. Para pedagang berjualan dengan modal seadanya. Mereka tahu risiko yang mereka ambil: bisa digusur lagi kapan saja. Tapi bagi mereka, lebih baik mengambil risiko daripada duduk diam di kios kosong yang tak mendatangkan uang.
Bukannya tidak mau tertib, mungkin itu semua dilakukan untuk melanjutkan hidup.
Janji Penataan yang Tak Kunjung Datang
Program penataan kawasan Puncak sempat menjadi tajuk besar Pemkab Bogor. Tapi hingga kini, yang terlihat hanyalah bagian penggusuran. Tidak ada peningkatan fasilitas. Tidak ada promosi untuk menghidupkan kawasan rest area. Tidak ada kepastian.
Komarudin, Kasi Trantib Kecamatan Cisarua, mengakui bahwa kini banyak pedagang kembali ke jalan. Ia menyebut pihaknya akan merencanakan patroli, meskipun saat ini lebih fokus menertibkan spanduk dan baliho liar.
Sementara itu, para pedagang Puncak hanya bisa berharap. Mereka tidak minta banyak. Hanya ingin bisa berdagang kembali seperti dulu di tempat yang aman, layak, dan membawa pembeli datang.
Waktu hampir magrib. Tak ada pembeli hari ini, namun pedagang tetap bersyukur. “Mungkin besok ada yang mampir pikirnya. keluh para pedagang kecil muncul dari narasi besar “penataan kawasan”. Mereka bukan sekadar korban relokasi, mereka adalah pejuang hidup yang sedang menunggu janji ditepati.











Leave a Reply