Siapa sesungguhnya mantan Direktur Digital dan Teknologi Informasi PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Indra Utoyo?
Aktual Tangerang – Indra Utoyo menjadi sorotan publik di dunia maya. Mantan Direktur Digital & Teknologi Informasi PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) ini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan mesin Electronic Data Capture (EDC) di BRI periode 2020-2025.
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Indra pada Selasa (23/9/2025). Siapa sebenarnya Indra Utoyo?
Indra Utoyo menamatkan pendidikan S1 Teknik Elektro Telekomunikasi ITB pada 1985. Kemudian ia melanjutkan jenjang S2 Communication and Signal Processing di Imperial College, Inggris pada 1994.
Pendidikan S3 Ekonomi & Bisnis Manajemen Stratejik di Universitas Indonesia pada 2019. Indra menghabiskan karier lebih banyak di BUMN telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.
Jabatan di Telkom mentereng. Ia pernah duduk sebagai Deputi EGM Divisi Multimedia (2004-2005). Senior General Manager ISC (2005-2007) hingga Komisaris Utama Telin (2007-2008).
Indra juga sempat menjabat Direktur IT Solution & Supply Telkom (2007-2012) dan Direktur Innovation & Strategic Portfolio Telkom (2012-2016).
Komisaris PT Telkomsel sekaligus Plt Dirut Telkom pada Oktober–Desember 2014.
Baca Juga:
- Anggaran Pemkot Tangsel Disorot: Tidak Prioritaskan Kepentingan Publik?
- Trauma Peristiwa 2018, Banten Siaga Tsunami
Selanjutnya, ia menjabat Direktur Digital & Strategic Portfolio Telkom Group pada 2017-2022 sebelum menjadi Direktur Digital & Teknologi Informasi BRI pada 2017-2022. Indra kemudian diangkat sebagai Direktur Utama Allo Bank pada 19 Mei 2022, dengan kepemilikan 500.000 lembar saham per 31 Desember 2024.
Penggemar Otomotif
Merujuk pada arsip LHKPN elektronik (e-LHKPN) yang dilihat dari situs Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Indra terpantau melaporkan hartanya sebanyak 12 kali.
Selain harta tak bergerak, Indra juga mengoleksi sembilan unit mobil mewah. Sepertinya Indra Utoyo tergolong penggemar otomotif.
Ia mengoleksi lima mobil mewah. Mobil Toyota Fortuner Jeep (2016) senilai Rp 400 juta.
BMW Mini Cooper F55 Cooper A/T (2017) senilai Rp 525 juta. Honda Freed GB3 (2012) senilai Rp 120 juta.
Mercedes Benz E399 (2017) senilai Rp 900 juta, dan Toyota Alphard 2.5G (2019) senilai Rp 900 juta.
Mersedes Benz E399 keluaran tahun 2017 tergolong kendaraan mewah. Mercedes kelas E ini terilang impresif dilengkapi dengan kecerdasan mobil terhubung V2X.
Teknologi keselamatan dan kenyamanan aktif yang belum pernah ada sebelumnya.
Sedan mewah ini akan bekerja tanpa henti dan gigih untuk mencegah semua potensi kecelakaan sejak awal.
Indra juga memiliki empat unit kendaraan motor. Yakni Motor Honda PCX / VI3002032L0 (2018) senilai Rp 21 juta. Motor Yamaha Mio Solo (2007) senilai Rp 4 juta.
Dua unit lainnya Yamaha Mio Solo (2010) senilai Rp 4 juta. Yamaha Vega (2006) senilai Rp 23 juta.









Leave a Reply