Bank Dunia: 10-15 Tahun Lagi Anak Muda Sulit Dapat Kerja

Adi Subchan - 29 October 2026

Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan kesenjangan 800 juta lapangan kerja global dalam 10–15 tahun. Investasi dan reformasi menjadi strategi utama. (FOTO: iStockphoto/ILUSTRASI)
Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan kesenjangan 800 juta lapangan kerja global dalam 10–15 tahun. Investasi dan reformasi menjadi strategi utama. (FOTO: iStockphoto/ILUSTRASI)

Aktual Tangerang – Presiden Bank Dunia (World Bank), Ajay Banga, memperingatkan ancaman kesenjangan 800 juta lapangan kerja global dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.

Ancaman ini muncul seiring proyeksi masuknya 1,2 miliar anak muda ke pasar kerja, sementara pekerjaan yang tersedia diperkirakan hanya sekitar 400 juta.

Banga menyampaikan peringatan tersebut dalam pidatonya pada Annual Meetings Bank Dunia. Ia menilai penciptaan lapangan kerja dalam skala besar menjadi salah satu tantangan utama pembangunan global.

“Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, 1,2 miliar kaum muda akan memasuki pasar kerja, yang diproyeksikan hanya mampu menyediakan sekitar 400 juta lapangan pekerjaan. Generasi inilah yang akan membentuk abad mendatang. Pilihan yang kita buat hari ini akan turut menentukan bagaimana bentuk masa depan tersebut,” ujar Banga dikutip, Kamis (29/10/2026).

Menurut Banga, tantangan penciptaan lapangan kerja semakin berat akibat meningkatnya beban utang negara dan menyempitnya ruang fiskal.

Tingginya biaya kebutuhan esensial, mulai dari energi hingga pupuk, juga membatasi kemampuan pemerintah membiayai pembangunan.

Baca Juga :  Peluang Cuan, Tangerang Butuh 35 Ribu Hewan Kurban

Konflik yang belum mereda turut menambah tekanan terhadap perekonomian global. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus meningkatkan investasi sekaligus menghadapi keterbatasan anggaran publik.

Banga menilai kedua persoalan itu perlu ditangani secara bersamaan. Pemerintah dan lembaga pembangunan harus memaksimalkan sumber daya yang tersedia sekaligus mendorong terciptanya lebih banyak lapangan kerja.

Ruang Fiskal Menyempit, Investasi Jadi Kunci Pembangunan

Beban utang dan terbatasnya ruang fiskal menjadi salah satu tantangan utama yang disoroti Banga. Ruang fiskal menggambarkan kemampuan pemerintah membiayai belanja dan investasi tanpa mengganggu keberlanjutan keuangan negara.

Ketika pembayaran utang meningkat dan kebutuhan belanja lainnya membesar, kemampuan pemerintah memperluas pembiayaan pembangunan dapat tertekan.

Banga menilai pembangunan ke depan membutuhkan kombinasi pendanaan publik, investasi swasta, filantropi, dan teknologi. Komposisi pendanaan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara.

“Kemitraan serta perpaduan berbagai sumber pendanaan tersebut harus terus berkembang seiring dengan kemajuan negara-negara terkait,” ujarnya.

Ia menegaskan pendanaan publik dan pendanaan lunak atau konsesional tetap penting bagi negara yang menghadapi kebutuhan pembangunan besar dan risiko tinggi. Seiring menguatnya perekonomian suatu negara, investasi swasta dan akses ke pasar diharapkan memainkan peran lebih besar.

Baca Juga :  Dua Juta Kendaraan di Banten Nunggak Bayar Pajak

Banga mengungkapkan mobilisasi modal swasta oleh World Bank Group meningkat lebih dari tiga kali lipat. Nilainya naik dari sekitar USD35 miliar pada tahun fiskal 2022 menjadi USD112 miliar pada tahun fiskal terakhir yang dipaparkan.

Jika digabungkan dengan pendanaan dari Bank Dunia sendiri, total pendanaan yang terkumpul melampaui USD230 miliar.

Mobilisasi modal swasta juga meningkat hampir tiga kali lipat di negara berpendapatan menengah bawah. Di negara berpendapatan menengah atas, nilainya meningkat empat kali lipat, sedangkan di Afrika kenaikannya melampaui dua kali lipat.

Namun, Banga menyoroti mobilisasi modal yang stagnan di negara berpendapatan rendah. Padahal, negara-negara tersebut menghadapi tantangan besar untuk menarik investasi komersial.

“Jalan menuju pemulihan ekonomi bagi negara-negara termiskin dan paling rentan terletak pada usaha kecil mereka; usaha-usaha ini sering kali tumbuh di tempat yang belum dijangkau oleh perusahaan-perusahaan besar,” ujarnya.

Tiga Strategi Mendorong Terciptanya Lapangan Kerja

Untuk menghadapi ancaman kesenjangan lapangan kerja, Bank Dunia mengandalkan tiga pilar strategi. Ketiganya mencakup pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia, kepastian regulasi, serta peningkatan investasi swasta.

1. Memperkuat Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia

Pilar pertama berfokus pada penyediaan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurut Banga, perusahaan membutuhkan pasokan listrik, air, transportasi, dan konektivitas digital yang memadai untuk menjalankan usaha.

“Tahun lalu, kami mengalokasikan US$40 miliar, hampir sepertiga dari total pendanaan kami, untuk membangun fondasi-fondasi ini,” kata Banga.

Investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat fondasi yang dibutuhkan dunia usaha. Infrastruktur yang memadai diharapkan mendukung produktivitas dan perluasan kegiatan ekonomi.

2. Menciptakan Kepastian Regulasi dan Kebijakan

Pilar kedua adalah memperkuat kepastian regulasi dan kebijakan. Banga menilai perusahaan dari berbagai skala membutuhkan institusi yang kuat, tata kelola yang baik, serta aturan yang jelas dan dapat diprediksi.

Penyederhanaan perizinan dan kepastian aturan pertanahan juga menjadi bagian dari upaya menciptakan iklim usaha yang mendukung investasi.

Bank Dunia menyebut sekitar 30 persen pembiayaan sektor publiknya pada tahun fiskal terakhir diarahkan untuk mendukung reformasi kebijakan dan kelembagaan.

3. Memperbesar Investasi Swasta

Pilar ketiga berfokus pada peningkatan investasi swasta dengan mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi investor.

Banga menjelaskan, investasi masih dapat terhambat meskipun infrastruktur dan regulasi sudah mendukung. Risiko mata uang dan keterbatasan akses pembiayaan menjadi sejumlah persoalan yang perlu ditangani.

“Meskipun fondasi sudah kuat dan aturan sudah jelas, terkadang masih ada risiko yang menghambat investasi. Laboratorium Investasi Sektor Swasta (Private Sector Investment Lab) membantu kami berfokus pada hambatan-hambatan tersebut, mulai dari risiko mata uang hingga akses terhadap pembiayaan, serta memperkuat instrumen untuk mengatasinya, seperti penjaminan, penyertaan modal (ekuitas), dan pembiayaan dalam mata uang lokal,” imbuhnya.

Melalui strategi tersebut, Bank Dunia berupaya mendorong investasi yang dapat memperluas kegiatan usaha dan membuka lapangan kerja. Tantangan utamanya adalah memastikan pertumbuhan investasi mampu menciptakan peluang kerja bagi generasi muda yang akan memasuki pasar tenaga kerja dalam 10 hingga 15 tahun mendatang. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini