Sebanyak 25 kecamatan di Kabupaten Tangerang berstatus Awas Bencana Kekeringan. Sebanyak 62.076 warga terdampak hingga September 2026.
Aktual Tangerang – Sebanyak 25 kecamatan di Kabupaten Tangerang, Banten, berstatus Awas Bencana Kekeringan akibat kemarau ekstrem.
Wilayah tersebut berpotensi mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengatakan, status awas ditetapkan berdasarkan potensi HTH dan curah hujan.
Wilayah berstatus awas memiliki potensi HTH lebih dari 60 hari dan curah hujan sangat rendah.
“Kekeringan itu hampir di seluruh kecamatan, total saat ini ada 25 kecamatan itu enggak ada hujan,” kata Taufik, Rabu (16/9/2026).
Sebanyak 25 kecamatan tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang.
Wilayah itu meliputi Balaraja, Cikupa, Cisauk, Curug, Gunung Kaler, Jambe, dan Jayanti. Selain itu, Kelapa Dua, Kresek, Kronjo, Kosambi, Legok, Mauk, dan Mekar Baru.
Wilayah lainnya adalah Pagedangan, Pakuhaji, Panongan, Pasar Kemis, Rajeg, dan Sepatan Timur. Kemudian, Solear, Sukadiri, Sukamulya, Teluknaga, serta Tigaraksa juga berstatus awas.
Taufik mengatakan, hujan yang turun di sejumlah wilayah hanya berupa gerimis.
“Hampir seluruhnya itu. Karena ada hujan pun hanya gerimis ya, paling sekitaran Tigaraksa gitu. Tapi kan malah itu yang terbanyak jumlah kebakarannya,” jelas Taufik.
62.076 Warga Terdampak Kekeringan
Berdasarkan pendataan Juli hingga September 2026, kekeringan telah berdampak pada 73 desa atau kelurahan. Wilayah terdampak tersebut tersebar di 25 kecamatan Kabupaten Tangerang.
Jumlah warga terdampak mencapai 62.076 jiwa atau 23.430 kepala keluarga (KK).
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Kabupaten Tangerang terus menyalurkan bantuan air bersih.
BPBD telah melakukan 330 kali pengiriman air bersih ke 178 titik terdampak kekeringan.
Taufik mengatakan, dampak kekeringan yang meluas masih dapat ditangani pemerintah daerah. Karena itu, Pemkab Tangerang belum menetapkan status siaga bencana kekeringan.
“Suplai air itu seluruhnya bisa kita layani bersama, terutama suplai air ya bisa dibantu oleh PDAM, PMI, bahkan pihak swasta. Apabila kekeringan ini terus-menerus kemudian meluas baru kita akan lakukan siaga bencana,” ungkapnya. (*)









Leave a Reply