Proyek Hutan Bambu Cisoka senilai Rp1,8 miliar disorot warga. DLHK Tangerang menyebut proyek masih dalam tahap pematangan lahan.
Aktual Tangerang – Proyek pembangunan kawasan Hutan Bambu di Desa Bojongloa, Cisoka, Kabupaten Tangerang, menjadi sorotan warga.
Proyek senilai Rp1,8 miliar tersebut dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Pembangunan itu dikerjakan Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).
Anggaran proyek bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tangerang.
Pembangunan sebelumnya ditargetkan rampung pada pertengahan 2026. Namun, warga mengaku tidak melihat aktivitas pengerjaan di lokasi selama beberapa bulan terakhir.
Seorang warga sekitar, Arisman Ndraha, mengaku tidak melihat adanya pekerjaan di kawasan tersebut.
“Sejak 6 bulan lalu saya di sini, enggak ada satu pun pengerjaan di Hutan Bambu. Padahal anggarannya besar untuk Hutan Bambu ini, harusnya sudah selesai kalau memang ditargetkan pertengahan tahun ini,” ujar Arisman, Rabu (2/9/2026).
Kepala DLHK Kabupaten Tangerang Ujat Sudrajat memberikan penjelasan mengenai kondisi proyek tersebut. Menurut Ujat, proyek senilai Rp1,8 miliar itu masih berada pada tahap pematangan lahan.
“Sebenarnya itu proyek kegiatan pematangan lahan, ya, yang dahulunya rawa kemudian kita uruk. Jadi lebih ke pematangan lahan,” ujar Ujat.
Ujat menjelaskan, pembangunan Hutan Bambu Cisoka merupakan bagian dari rencana jangka panjang Pemkab Tangerang.
Kawasan tersebut nantinya dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) tematik untuk masyarakat.
RTH tersebut direncanakan memiliki sejumlah fasilitas pendukung bagi pengunjung. Fasilitas itu meliputi jalur jogging, saung untuk bersantai, serta sejumlah spot untuk berfoto.
Namun, proses pengembangan kawasan menghadapi kendala akibat kondisi cuaca. Musim kemarau membuat sejumlah tanaman berpotensi tidak tumbuh secara optimal. Tanaman tersebut termasuk bambu dan rumput yang berada di kawasan proyek.
Meski demikian, Ujat menyebut sejumlah bambu di bagian pinggir kawasan tumbuh cukup baik.
“Yang di pinggir alhamdulillah bagus begitu kan yang kita tanam. Bambu yang di pinggir itu,” imbuhnya.
Ujat juga menjelaskan kondisi bambu yang terlihat kering di bagian tengah kawasan. Menurutnya, area tersebut bukan bagian utama dari penanaman proyek Hutan Bambu.
Area tersebut sebelumnya digunakan sebagai lokasi uji coba untuk rencana pembangunan aviary. Selain itu, kawasan tersebut disiapkan sebagai jalur menuju danau.
Ujat menyebut kondisi cuaca saat penanaman menjadi salah satu penyebab bambu tidak tumbuh optimal.
“Barangkali kurang cocok atau mungkin pada saat penanaman sudah keburu masuk musim kemarau,” kata Ujat.
Pemkab Tangerang berencana melakukan penanaman kembali setelah musim hujan tiba. Bambu tersebut nantinya ditanam di sisi kiri dan kanan jalur menuju kawasan utama.
Penanaman itu diharapkan membentuk lorong bambu sebagai bagian dari konsep kawasan.
“Nanti ketika musim hujan lagi kita akan tanam lagi. Karena itu kan semacam kiri-kanan, semacam jalan masuk nanti ke dalamnya. Kalau ada itu kan seperti lorong, jadi bagus,” tutupnya. (*)









Leave a Reply