Sebanyak 629 pelajar SMA Tangsel masuk kategori risiko depresi ringan berdasarkan skrining kesehatan mental CKG 2026.
Aktual Tangerang – Sebanyak 629 pelajar SMA di Tangerang Selatan masuk kategori risiko depresi ringan.
Temuan tersebut berdasarkan skrining kesehatan mental dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026.
Kekhawatiran terhadap masa depan menjadi salah satu persoalan yang muncul dalam skrining tersebut.
Para pelajar juga mengungkapkan kecemasan menghadapi masa depan, tekanan akademis, hingga gangguan tidur.
Kepala Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, temuan berasal dari skrining kesehatan mental CKG.
Skrining dilakukan melalui sejumlah pertanyaan sederhana untuk mengetahui kondisi psikologis pelajar.
Pertanyaan tersebut mencakup perasaan cemas dan kekhawatiran yang dialami dalam beberapa waktu terakhir.
“Misalnya, apakah 2 minggu terakhir ini Anda merasa gelisah terhadap hal-hal yang belum terjadi atau merasa khawatir,” kata Allin di Pondok Aren, Tangsel, Selasa (1/9/2026).
Menurut Allin, skrining juga menanyakan gangguan tidur dan gejala kecemasan berlebihan.
“Atau ada gangguan tidur, atau ada gejala cemas yang berlebihan. Itu pertanyaan-pertanyaan sederhana dan pada saat masyarakat menjawab jujur itu sudah dikategorikan depresi ringan,” ujarnya.
Namun, Allin menegaskan hasil tersebut bukan diagnosis depresi bagi para pelajar. Kategori tersebut menunjukkan adanya risiko yang membutuhkan identifikasi dan tindak lanjut.
“Jadi bukan apakah itu sudah mulai minum obat? Enggak. Ini hanya risiko, risiko depresi,” ujar Allin.
Pelajar Cemas Memikirkan Masa Depan
Hasil skrining menunjukkan persoalan remaja tidak hanya berkaitan dengan kondisi saat ini.
Sebagian pelajar justru mengungkapkan kekhawatiran mengenai kehidupan yang akan mereka jalani.
Allin menyebut tekanan akademis turut menjadi salah satu faktor yang muncul dalam skrining.
“Jadi mereka ada hal-hal yang ketakutan akan masa depan, kemudian juga karena mungkin tekanan dari beberapa pertanyaan, ada dari tekanan akademis juga,” tutur Allin.
Kecemasan tersebut dapat muncul ketika pelajar memikirkan berbagai hal yang belum terjadi.
Kekhawatiran mengenai kehidupan pada masa mendatang menjadi salah satu respons yang teridentifikasi.
“Mereka pada saat ditanyakan ada kekhawatiran nggak terhadap hal-hal yang belum terjadi. Nah, mereka menyatakan, ya saya khawatir atau cemas akan nanti mungkin ke depan saya seperti apa dan lain-lain sebagainya,” ujarnya.
Dinkes Dorong Edukasi dan Kolaborasi
Temuan skrining tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. Allin mengatakan hasil skrining perlu ditindaklanjuti melalui edukasi dan kolaborasi.
Penanganan persoalan tersebut tidak hanya dilakukan melalui pendekatan medis. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah menggelar seminar kesehatan mental bagi remaja.
Menurut Allin, gangguan tidur juga perlu ditelusuri untuk mengetahui penyebabnya.
“Artinya, risiko-risikonya itu tadi misalnya gangguan tidur, kita mesti cari tahu kan kenapa dia tidurnya terganggu,” ucapnya.
Dinkes Tangsel juga menilai sekolah memiliki peran penting dalam penanganan persoalan kesehatan mental pelajar.
Kolaborasi dengan sekolah diperlukan untuk memahami persoalan siswa dan menentukan pendampingan yang sesuai.
“Tentu ini adalah butuh kolaborasi antara kami dengan pihak sekolah, supaya nanti bisa mengatasi masalah tersebut,” pungkasnya. (*)









Leave a Reply