Gunung Anak Krakatau erupsi tujuh kali pada 17 Agustus 2026. Warga Pulau Sebesi kembali mendapat 300 masker sebagai langkah antisipasi.
Aktual Tangerang – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali erupsi di perairan Selat Sunda, Senin (17/8/2026).
Aktivitas vulkanik tersebut tercatat sebanyak tujuh kali sejak sore hingga malam hari. Erupsi berlangsung mulai pukul 15.14 WIB hingga 19.44 WIB.
Berdasarkan data Magma Indonesia, dua erupsi terakhir tidak teramati secara visual. Namun, aktivitas letusan tersebut tetap tercatat melalui seismograf.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 15.14 WIB. Saat itu, kolom abu teramati sekitar 150 meter di atas puncak GAK.
Ketinggian tersebut setara sekitar 307 meter di atas permukaan laut.
Aktivitas erupsi kembali terjadi sekitar satu menit kemudian. Pada letusan berikutnya, kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak. Ketinggiannya tercatat sekitar 557 meter di atas permukaan laut.
Material abu vulkanik berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal. Abu vulkanik tersebut teramati bergerak menuju arah timur.
Aktivitas GAK turut menjadi perhatian warga Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.
Warga Pulau Sebesi Kembali Dibagikan Masker
Sebagai langkah antisipasi, warga Pulau Sebesi kembali mendapatkan masker. Puskesmas Pembantu (Pustu) bersama Pemerintah Desa Tejang menyiapkan sekitar 300 masker. Masker tersebut akan dibagikan kepada warga pada Rabu (19/8/2026).
Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi, Syamsir, mengatakan pembagian masker dilakukan sebagai langkah pencegahan.
Abu vulkanik berpotensi terbawa angin menuju permukiman warga.
“Hari ini kita akan kembali membagikan masker kepada warga. Jumlahnya sekitar 300 pcs,” ujar Syamsir, Rabu (19/8/2026).
Menurut Syamsir, pembagian masker bukan pertama kali dilakukan pemerintah desa. Sejak Juli 2026, pemerintah desa bersama pihak terkait telah membagikan masker sebanyak tiga kali.
Langkah tersebut kembali dilakukan karena aktivitas vulkanik GAK masih berlangsung.
Meski abu berpotensi terbawa angin, kondisi warga Pulau Sebesi masih aman. Aktivitas masyarakat juga masih berlangsung normal tanpa adanya pengungsian.
“Alhamdulillah masih aman, warga masih beraktivitas seperti biasa dan belum ada keluhan dari warga. Belum ada warga yang melakukan pengungsian,” kata Syamsir.
Pembagian masker dilakukan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
Pemerintah desa juga terus memantau aktivitas GAK dan kondisi masyarakat Pulau Sebesi.
Pemantauan dilakukan seiring aktivitas vulkanik yang masih berlangsung di kawasan Selat Sunda. (*)









Leave a Reply