BPBD Kabupaten Tangerang mencatat 121 kebakaran sepanjang 1-26 Juli 2026. Tigaraksa menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, didominasi kebakaran ilalang dan limbah.
Aktual Tangerang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mencatat 121 peristiwa kebakaran selama 1-26 Juli 2026. Mayoritas kejadian dipicu kebakaran ilalang dan limbah saat musim kemarau.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan kebakaran terjadi di berbagai lokasi. Lokasi tersebut meliputi ilalang, tumpukan sampah, rumah warga, limbah, perusahaan, hingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin.
“Seluruh peristiwa kebakaran ini didominasi oleh kebakaran ilalang dan limbah,” kata Achmad Taufik kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).
Menurut Taufik, kebakaran terjadi di 25 dari 29 kecamatan di Kabupaten Tangerang sepanjang Juli 2026.
Wilayah terdampak meliputi Balaraja, Cikupa, Cisauk, Cisoka, Curug, Jambe, Kelapa Dua, Kemiri, Kresek, Kronjo, Kosambi, Legok, Mauk, Pagedangan, Pakuhaji, Panongan, Pasar Kemis, Rajeg, Sepatan, Sepatan Timur, Sindang Jaya, Solear, Sukadiri, Teluknaga, dan Tigaraksa.
Sementara itu, Gunung Kaler, Jayanti, Mekar Baru, dan Sukamulya tidak mencatat peristiwa kebakaran selama periode tersebut.
Taufik mengungkapkan Kecamatan Tigaraksa menjadi wilayah dengan jumlah kebakaran terbanyak.
“Paling banyak terjadi kebakaran itu di Tigaraksa, dengan jumlah kejadian kebakaran ada 24 peristiwa,” ujarnya.
Ia menjelaskan penyebab kebakaran cukup beragam. Faktor pemicu meliputi pembakaran sampah ilegal, korsleting listrik, serta kemarau panjang.
Menurutnya, kondisi cuaca yang sangat kering memperbesar risiko kebakaran di berbagai wilayah Kabupaten Tangerang.
“Sebagaimana kita tahu bahwa prediksi BMKG kan 2026 ini mulanya sejak April-Mei, itu cuaca ekstrim yang disebut El Nino Godzilla. Dan kemarau, kemarau yang sangat panas gitu kemudian berlangsung cukup lama ya kurang lebih 8 bulan ya, kurang lebih seperti itu,” ucap Taufik.
Menghadapi peningkatan risiko bencana, BPBD Kabupaten Tangerang menyiagakan 14 pos pemadam kebakaran di sejumlah wilayah.
Pos tersebut tidak hanya menangani kebakaran. Personel juga disiapkan menghadapi banjir, kekeringan, dan bencana hidrometeorologi lainnya.
“Pemerintah Daerah selalu mensupport apa yang apa namanya direncanakan oleh BPBD di antaranya adalah kita sudah memiliki 14 pos Damkar,” jelas Taufik.
“Pos Damkar ini bertugas selain juga bertugas untuk memadamkan api juga ketika terjadi bencana banjir dan sebagainya karena tupoksi BPBD dan kebakaran ini di bawah BPBD dua-duanya gitu. Nah jadi kita siap dari sisi personil dan sarana prasarana,” sambungnya. (*)








Leave a Reply