BMKG menyatakan musim kemarau 2026 di Tangerang Raya masih normal. Namun, Kecamatan Serpong mulai masuk kategori agak kering dan warga diminta waspada.
Aktual Tangerang – Musim kemarau mulai dirasakan masyarakat di Tangerang Raya. Dampaknya memicu kebakaran dan krisis air bersih di sejumlah wilayah.
Kebakaran terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang. Krisis air bersih juga melanda Kampung Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II memastikan musim kemarau 2026 masih tergolong normal.
Kepala BBMKG Wilayah II Hartanto mengatakan hasil prediksi indeks kekeringan masih menunjukkan kondisi normal.
Prediksi tersebut menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI) untuk periode Juli hingga September 2026.
“Berdasarkan prediksi indeks kekeringan (SPI) bulan Juli-September 2026, khususnya di wilayah Tangerang Raya menunjukkan bahwa tingkat kekeringan berada pada kategori normal,” kata Hartanto, Jumat (17/7/2026).
Meski demikian, BBMKG mencatat Kecamatan Serpong mulai memasuki kategori agak kering.
“Sedangkan Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, berada pada kategori agak kering,” ujarnya.
Hartanto juga memastikan belum ditemukan titik panas penyebab kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Banten.
Pemantauan dilakukan menggunakan citra satelit Himawari-9.
“Potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Banten hingga hari ini tidak teramati atau terdeteksi dengan citra satelit Himawari-9,” katanya.
Meski belum ditemukan hotspot, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.
Hartanto mengingatkan pembakaran sampah dan lahan terbuka berpotensi memicu kebakaran saat cuaca semakin kering.
Ia juga meminta masyarakat mulai menghemat penggunaan air bersih.
Pengelolaan irigasi pertanian perlu dioptimalkan selama musim kemarau berlangsung.
“Masyarakat diharapkan melakukan penghematan penggunaan air, menjaga sumber-sumber air bersih, mengoptimalkan irigasi dan distribusi air untuk lahan pertanian,” ujar Hartanto.
Ia juga mengingatkan masyarakat tidak membakar sampah maupun lahan secara terbuka.
“Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah secara terbuka, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di wilayah yang rentan mengalami kondisi kering,” jelasnya.
Selain itu, BBMKG meminta masyarakat mewaspadai penguatan fenomena El Niño. Fenomena tersebut berpotensi memperpanjang musim kemarau di sejumlah daerah.
Menurut Hartanto, kondisi itu dapat mengurangi ketersediaan air dan menurunkan debit sungai.
Sektor pertanian juga berisiko terdampak akibat meningkatnya ancaman kekeringan.
“Kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya ketersediaan air, penurunan debit sungai, serta berdampak pada sektor pertanian, termasuk meningkatnya risiko gagal panen pada lahan yang bergantung pada curah hujan,” tuturnya.
Meski begitu, Hartanto menegaskan musim kemarau 2026 di Provinsi Banten masih berada dalam kategori normal.
“Musim kemarau Provinsi Banten tahun 2026 masuk kategori normal, artinya sama dengan rata-rata musimnya,” pungkasnya. (*)









Leave a Reply