Dindikbud Kabupaten Serang mencatat sekitar 10 ribu anak belum bersekolah. Faktor ekonomi, broken home, dan PHK menjadi penyebab utama.
Aktual Tangerang – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang mencatat sekitar 10 ribu Anak Tidak Sekolah (ATS).
Data tersebut mencakup anak usia 5 hingga 18 tahun yang belum mengakses pendidikan.
Jumlah itu juga mencakup data residu siswa putus sekolah dalam sistem pendidikan nasional.
Kepala Dindikbud Kabupaten Serang Aber Nurhadi mengatakan pihaknya sedang memverifikasi data ATS. Langkah itu dilakukan untuk memastikan jumlah riil anak yang belum bersekolah.
Selain itu, verifikasi bertujuan memperluas akses pendidikan bagi seluruh anak.
“Yang terbesar usia 5-18 tahun, datanya sekitar 8 ribuan,” kata Aber, Senin (15/6/2026).
Menurut dia, sekitar dua ribu lainnya masih memerlukan pencocokan data. Mereka diduga merupakan siswa putus sekolah atau data residu Dapodik.
“Ada yang putus SD, putus SMP, atau residu yang belum dikeluarkan dari Dapodik,” ujarnya.
Aber menjelaskan, pemutakhiran data terus dilakukan secara bertahap. Pemerintah daerah ingin memperoleh gambaran kondisi pendidikan yang lebih akurat.
Sebagian besar ATS berasal dari kelompok usia wajib belajar. Sementara sebagian lainnya masih menunggu hasil verifikasi lapangan.
Meski jumlahnya cukup besar, Aber menilai kondisi Kabupaten Serang masih relatif terkendali.
“Daerah lain ada yang mencapai 12 ribu, 15 ribu, bahkan 20 ribu ATS,” katanya.
Faktor Ekonomi Dominasi Penyebab
Aber menyebut faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama anak tidak bersekolah. Keterbatasan biaya membuat sebagian keluarga kesulitan melanjutkan pendidikan anak.
Padahal, pemerintah telah menyediakan berbagai program bantuan pendidikan. Salah satunya berupa beasiswa bagi keluarga kurang mampu.
Program tersebut dapat diakses melalui rekomendasi lingkungan setempat.
Selain itu, tersedia beasiswa prestasi akademik dan nonakademik. Pemerintah juga membuka jalur beasiswa tahfiz Al-Qur’an.
“Kalau punya prestasi, cukup tunjukkan sertifikat atau piala yang dimiliki,” ujarnya.
“Untuk hafalan Alquran, tersedia beasiswa melalui jalur tahfiz,” tambahnya.
Broken Home dan PHK Jadi Faktor Pendukung
Selain ekonomi, terdapat faktor sosial yang memengaruhi angka ATS. Di antaranya kondisi keluarga tidak harmonis atau broken home.
Masalah perilaku anak di sekolah juga menjadi penyebab lainnya.
Dindikbud turut menemukan dampak pemutusan hubungan (PHK) kerja orang tua. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap motivasi dan keberlanjutan pendidikan anak.
Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Penanganan ATS tidak hanya fokus pada aspek administrasi.
Pemerintah juga berupaya menyelesaikan persoalan sosial yang melatarbelakanginya.
Targetkan Data Akurat Tahun Ajaran Baru
Saat ini Dindikbud terus melakukan penyisiran data ATS. Proses tersebut melibatkan sekolah, pemerintah desa, dan pihak terkait.
Hasil verifikasi diharapkan rampung sebelum tahun ajaran 2026/2027 dimulai.
Data yang valid akan menjadi dasar penyusunan program penanganan. Pemerintah berharap lebih banyak anak kembali mengenyam pendidikan.
“Sekarang datanya sedang disisir,” kata Aber. “Mudah-mudahan tahun ajaran baru nanti ditemukan data yang benar-benar riil,” pungkasnya. (*)









Leave a Reply