Siswa SMA Plus Pembangunan Jaya belajar bisnis dan personal branding melalui program SCYEP dari Starbucks Indonesia.
Aktual Tangerang – “Penting enggak sih personal branding?” tanya Desi Kristianti di hadapan siswa. HR dari Starbucks Indonesia itu memantik diskusi kritis.
Pertanyaan itu ditujukan kepada siswa kelas X SMA Plus Pembangunan Jaya, Tangerang Selatan (Tangsel). Mereka tergabung dalam ekstrakurikuler Student Company.
Kegiatan berlangsung di aula sekolah, Senin (6/4/2026). Aula disulap menjadi simulasi dunia kerja profesional.
Desi membawakan sesi Personal Branding and Interpersonal Skills. Ia tidak hanya berbagi teori, tetapi juga praktik langsung.
Para siswa terlihat antusias mengikuti sesi tersebut. Mereka mencoba membangun personal branding masing-masing.
Salah satu peserta, Hangganararas Tyas Prabhandari, mengaku kebingungan. Ia memiliki banyak minat, mulai puisi hingga menari.
“Aku bingung menentukan personal branding yang tepat,” ujar Raras.
Ia menyebut akun Instagramnya berisi berbagai konten campuran. Menurutnya, hal itu membuat identitasnya tidak jelas.
Desi menilai kondisi tersebut wajar bagi remaja. Ia menyarankan fokus pada passion utama. “Fokuslah pada satu minat yang paling kuat. Passion dapat berubah seiring waktu.l,” kata Desi.
Program ini bagian dari Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program. Program digelar sejak 2019 bersama Prestasi Junior Indonesia. Program telah menjangkau lebih dari 6.000 siswa.
Peserta berasal dari SMA dan SMK di seluruh Indonesia. Tahun ini melibatkan lebih dari 200 siswa.
Sebanyak 10 sekolah ikut serta dalam program tersebut. SMA Pembangunan Jaya menjadi salah satu peserta.
Dalam program, siswa membentuk perusahaan bernama Bruma. Perusahaan ini memproduksi coaster dari ampas kopi. Bahan baku diperoleh dari Starbucks.
Siswa bernama Rara dipercaya menjadi Presiden Direktur Bruma. Ia mengakui proses tidak mudah. “Kami melewati banyak ide dan kegagalan,” ujarnya.
Ia menilai proses tersebut membentuk ketahanan tim. Rara mengaku merasakan tekanan sebagai pemimpin. “Ada beban saat mengambil keputusan besar,” katanya.
Ia belajar menahan ego demi kepentingan tim. Rara kini lebih observatif dalam memimpin. Ia mengutamakan kolaborasi antar divisi.
Siswa lainnya, Raras, menjabat sebagai VP HRD. Ia mengelola dinamika tim dan konflik internal.
“HRD ternyata jauh lebih kompleks dari yang saya kira,” ujarnya.
Raras memilih pendekatan empati dalam menyelesaikan masalah. Ia berupaya memahami kondisi anggota tim. “Aku belajar memanusiakan manusia,” katanya.
Keduanya sepakat program ini membangun keberanian. “Berani gagal dan mengakui kesalahan itu penting,” ujar Rara.
Public Relations Starbucks Indonesia, Kiki Rizki, menjelaskan tujuan program. “Kami fokus pada pemuda sebagai calon pemimpin masa depan,” katanya.
Kiki menekankan, program ini menanamkan kewirausahaan sejak dini.
Assistant Manager PJI, Florentina Jabar, menyebut program semakin kompleks. “Siswa kini membangun bisnis nyata dengan tanggung jawab penuh,” ujarnya.
Sebanyak 1.800 relawan Starbucks terlibat dalam program. Mereka mendampingi siswa dalam manajemen tim. Relawan juga membantu mengatasi konflik internal.
Kepala Sekolah SMA Plus Pembangunan Jaya, Endang Wahyuningsih, mengapresiasi program tersebut. “Program ini membentuk soft skill penting siswa,” ujarnya.
Ia menilai program melengkapi kurikulum formal sekolah.
Dampak positif juga dirasakan oleh orang tua siswa. Mereka melihat perubahan karakter anak menjadi lebih profesional.
Pada ajang pitching regional, Bruma tampil kompetitif. Namun, mereka belum meraih juara utama.
Meski begitu, Rara meraih The Best CEO. Raras juga mendapat The Best HRD Director.
Pengalaman program menjadi bekal masa depan siswa. ***











Leave a Reply