Asal Usul Nastar, Kue Kering Ikonik Sajian Lebaran

Adi Subchan - 21 March 2026

Nastar menjadi kue khas Lebaran di Indonesia. Simak asal usul, makna simbolis, dan sejarahnya dalam tradisi Idulfitri. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)
Nastar menjadi kue khas Lebaran di Indonesia. Simak asal usul, makna simbolis, dan sejarahnya dalam tradisi Idulfitri. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

Nastar menjadi kue khas Lebaran di Indonesia. Simak asal usul, makna simbolis, dan sejarahnya dalam tradisi Idulfitri.

Aktual Tangerang – Sebagian umat Islam di Indonesia merayakan Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Sebagian lainnya baru merayakan Lebaran pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Perbedaan ini tidak mengurangi makna kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan.

Idulfitri identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga besar. Masyarakat biasanya menyajikan berbagai hidangan khas saat bersilaturahmi.

Salah satu sajian yang hampir selalu hadir adalah kue nastar.

Nastar menjadi ikon kuliner yang identik dengan perayaan Lebaran di Indonesia. Kue ini dikenal sebagai kue kering berisi selai nanas.

Popularitas nastar dipengaruhi tradisi kuliner peninggalan Belanda. Selain itu, nastar juga memiliki makna simbolis bagi masyarakat.

Baca Juga :  Roro Fitria Jadi Ibu Tunggal, Jual Kue Ramadan

Nama nastar berasal dari bahasa Belanda, yaitu “ananas” dan “taart”. Kedua kata tersebut berarti nanas dan kue tart. Secara harfiah, nastar berarti kue tart nanas.

Kue ini awalnya berkembang dari tradisi Eropa di masa kolonial. Pada masa itu, kue kering sering disajikan saat perayaan tertentu.

Dalam budaya Tionghoa, nastar dikenal dengan sebutan “ong lai”. Istilah tersebut melambangkan datangnya keberuntungan dan rezeki.

Makna ini membuat nastar semakin identik dengan perayaan besar.

Pada awal kemunculannya, nastar tergolong makanan mewah. Bahan seperti mentega dan gula sulit diakses masyarakat luas.

Kue ini awalnya hanya dinikmati kalangan elite. Seiring waktu, masyarakat mulai mengadaptasi resep nastar.

Isian kue diganti dengan selai nanas yang mudah ditemukan. Ukuran nastar juga dibuat lebih kecil dan praktis disajikan.

Baca Juga :  Aldi Taher Kenang Perjuangan Melawan Kanker Getah Bening

Perubahan ini mendorong penyebaran nastar ke berbagai kalangan. Kini, nastar dapat dinikmati hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Nastar juga memiliki nilai simbolis dalam perayaan Lebaran. Bahan-bahannya dahulu dianggap sebagai simbol kemewahan. Menyajikan nastar menjadi bentuk penghormatan kepada tamu.

Rasa manisnya melambangkan kebahagiaan dan kehangatan. Bentuknya yang bulat mencerminkan kebersamaan. Nilai-nilai ini memperkuat makna nastar saat Idulfitri.

Nastar tidak lagi sekadar kue kering biasa. Kue ini menjadi bagian dari identitas kuliner Lebaran.

Nastar biasanya disajikan bersama kastengel dan putri salju. Ketiga kue tersebut menjadi hidangan khas saat Hari Raya. ***

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini