Banjir Setinggi 80 Centimeter Genangi Reni Jaya Pamulang

Adi Subchan - 12 January 2026

Pemkot Tangerang dukung normalisasi Sungai Cirarab. Normalisasi diharapkan kurangi banjir Periuk dan lindungi warga. (Foto: Aktual Tangerang/Robby Kurniawan/Ilustrasi)
Pemkot Tangerang dukung normalisasi Sungai Cirarab. Normalisasi diharapkan kurangi banjir Periuk dan lindungi warga. (Foto: Aktual Tangerang/Robby Kurniawan/Ilustrasi)

Banjir setinggi 60–80 cm menggenangi Reni Jaya Pamulang. Warga minta tanggul ditinggikan untuk antisipasi banjir berikutnya.

Aktual Tangerang – Banjir setinggi 60–80 cm menggenangi Reni Jaya, Jalan Akasia, Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (12/1/2026) pagi.

Hujan deras beberapa hari terakhir memicu terjadinya banjir.

Sekitar pukul 10.00 WIB, genangan air mulai surut. Warga menyebut, tiga mesin pompa sudah disiagakan untuk membuang air ke kali sekitar.

“Untung pompa air, kalau enggak bisa lebih parah banjirnya,” kata seorang warga.

Petugas sempat ingin mendatangkan perahu karet mengantisipasi banjir lebih parah. Namun rencana itu dibatalkan karena banjir mulai surut.

Warga meminta Pemkot Tangsel meninggikan tembok pembatas kali. Dikhawatirkan, jika debit air meninggi maka akan meluas ke jalan dan masuk ke rumah warga.

“Ini saja rumah warga kemasukkan air, bagaimana jika debit air lebih tinggi?” ujar seorang warga.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Hari Ini, Tangerang Didominasi Hujan

Rusak Perabotan Rumah Warga

Banjir tidak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga merusak perabot rumah tangga karena terendam air.

Sejumlah furnitur, termasuk lemari, buffet, dan sofa, rusak akibat banjir yang terjadi berulang. Peralatan elektronik masih bisa diselamatkan, namun perabot kayu dan busa paling rentan rusak.

Warga Reni Jaya, Indah Ratna, mengaku banjir kali ini kembali merusak perabot rumahnya. Kerusakan terjadi bertahap karena genangan air berulang setiap hujan sedang hingga deras.

“Kalau elektronik aman, sudah biasa diselamatkan. Tapi furniture rusak karena sering kena banjir,” kata Indah.

Banjir mulai masuk ke rumah sekitar pukul 08.00 WIB dan surut menjelang siang. Kondisi memaksa warga mengangkat dan memindahkan barang-barang setiap kali hujan deras turun.

Meski tersedia tiga unit pompa air, banjir tetap terjadi dan merusak rumah warga.

Indah berharap pemerintah daerah memperbaiki drainase dan pengelolaan air hujan secara jangka panjang.

“Harapannya ada solusi untuk mengurangi dampaknya. Banjir di sini makin sering dan gampang masuk rumah,” ujarnya.

Baca Juga :  Kabar Duka, Pendiri Provinsi Banten Tryana Sajam'un Wafat

Hal serupa dirasakan Virgilery. Rumahnya terdampak banjir meski genangan air hanya setinggi betis.

“Air tidak terlalu tinggi karena rumah di bagian atas. Namun tetap harus beberes, membuat saya terlambat bekerja,” pungkas Virgilery. (Penulis: Robby Kurniawan)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini