Arief Wibowo: Perlu Sanksi bagi Warga yang Tak Pilah Sampah

Syahrul Munir - 24 December 2025

Pilah Sampah
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Neglasari, Kota Tangerang. (FOTO: TangerangPos)

Pemerintah Kota Tangerang perlu melakukan pendampingan berkelanjutan dalam mengubah kebiasaan warga untuk pilah sampah organik dan anorganik 

Aktual Tangerang – Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Arief Wibowo mengatakan persoalan sampah harus diselesaikan dari hulu, yakni masyarakat sebagai produsen untuk pilah sampah dari rumah.

Penyelesaian tumpukan sampah ini butuh perjuangan konkrit dan berkelanjutan dalam melakukan perubahan kebiasaan warga menyatukan sampah organik dan anorganik dalam satu kantong. Mulai dengan pemisahan sampah organik dan anorganik dari rumah tangga.

“Sampah instrumen yang sulit dikelola karena bercampur anorganik dan organik. Tipe sampah Indonesia 60-70 persen sampah organik. Kalau ini tidak diselesaikan dengan daya dukung yang lebih baik, ini berat,” ujar Arief Wibowo kepada Aktual Tangerang.

Arief menjelaskan dalam mengubah kebiasaan warga, terutama memisahkan sampah organik dan anorganik itu butuh kejelasan proses. Ini dilakukan agar proses pilah sampah oleh warga berlangsung secara berkesinambungan.

Baca Juga :  Sampah Tangsel bakal Ditampung TPSA Cilowong Serang

Kejelasan proses itu, lanjut Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mulai dari Pemkot Tangerang menyiapkan sarana pendukung. Lalu melakukan pelatihan pada sumber daya manusia (SDM), terutama kemampuan pemilahan sampah yang baik.

Sisanya pendampingan kepada warga.

Apresiasi dan Sanksi 

Arief mencontohkan bentuk sarana pendukung pada masyarakat selain menyiapkan tong dan truk pengangkut sampah yang telah memisahkan organik dan anorganik. “Warga yang sudah memilah sampah diberikan insentif, dan sebaliknya yang tidak melakukan ada sanksi sosial,” ujar Sekretaris DPW PKS Banten itu.

Setelah pendampingan SDM di masyarakat sudah dilakukan, kata Arief langkah berikutnya adalah pelatihan cara memilah sampah yang benar. Kemudian menyiapkan pendamping per RT.

“Orangnya terus diupgrade. Dan ini harus kolabortif tidak bisa masyarakat jadi objek sendiri,” ujarnya.

Arief sempat menyinggung program pemilahan sampah dari warga ini bukan hanya kegiatan seremonial semata. Akan tetapi, program ini perlu dilakukan dengan kejelasan proses dan berkesinambungan.

“Ini perlu langkah kongkrit berkelanjutan. Pendampingan warga per RT dalam mengawal prosesnya. Karena melakukan perubahan kebiasaan itu butuh pelatihan dan pendampingan,” ujarnya. 

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini