Pemerintah Kota Tangerang mendorong percepatan pengembangan Kawasan Bisnis Aerotropolis untuk dongkrak investasi
Aktual Tangerang – Aerotropolis bukan hal baru dalam dunia bisnis modern. Seiring dengan transportasi udara yang kian akrab bagi masyarakat, muncul konsep kota bandara.
Kota bandara terbentuk karena banyaknya kegiatan usaha atau jasa komersial di sekitar kawasan bandara. Maklum, saat ini masyarakat lebih memilih pesawat yang relatif singkat dari segi waktu.
Kota Bandara ini menjadi cikal bakal bisnis aerotropolis. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus berkomitmen mendorong percepatan pengembangan Kawasan Bisnis Aerotropolis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Tangerang, Sugihharto Achmad Bagdja menuturkan, pengembangan Kawasan Bisnis Aerotropolis dinilai sebagai salah satu langkah strategis meningkatkan investasi.
Wabil khusus di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Zona Ekonomi Khusus Segitiga Emas
Pemkot Tangerang dalam rencana pembangunan jangka panjang akan mengembangkan zona ekonomi khusus segitiga emas (economic triagle). Yakni menghubungkan Central Business Distric (CBD) Primer di Benda-Neglasari-Batuceper, CBD Sekunder di Modernland-TangCity, dan CBD Metropolitan di Alam Sutera.
Ketiga zona itu terhubung dengan kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang diproyeksikan sebagai pusat aktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
“Kami akan terus mengewal rencana pengembangan kawasan aeropolis ini bisa berjalan sesuai dengan target yang diinginkan,” ujar Sugihharto.
Saat ini, Pemkot Tangerang sedang mendorong perencanaan pembangunan akses parimeter utara. Serta Frontage Alam Sutera menjadi dua titik akselerasi penunjang kawasan bisnis Aerotropolis di Kota Tangerang.
Pihaknya juga akan mengambil langkah cepat melakukan sinkronisasi regulasi tata ruang dan percepatan penetapan area pengembangan. Langkah ini untuk mendukung pengembangan Kawasan bisnis baru agar segera direalisasikan.
Hal ini dilakukan untuk memperkuat iklim investasi di berbagai sektor. Sebut saja pusat logistik dan aerotech, hunian vertikal, perhotelan, MICE (Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition), sampai perdagangan dan jasa.
“Berdasarkan rencana jangka panjang yang akan dibuat, proses pengembangan ini akan melewati beberapa tahapan mulai dari tahapan pertama (2025-2030), tahap kedua (2030-2040), dan tahapan ketiga yang ditargetkan bisa beroperasi bahkan berkontribusi besar terhadap perekonomian Kota Tangerang (2040-2050).” tambahnya.
Selain akan melakukan percepatan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) kawasan Aerotropolis yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangan Menengah Daeah (RPJMD) Kota Tangerang tahun 2025-2029, Pemkot Tangerang juga berkolabolasi dengan PT. Angkasa Pura Indonesia dalam menyusun pengembangan Kawasan Bisnis Aerotropolis sebagai salah satu stakeholder Utama.
Berkembang di Eropa Tahun 1990
Aerotropolis mulai dikembangkan di Eropa dan Amerika Serikat tahun 1990-an. Konsep pengembangan kawasan sekitar bandara dengan konsep aerotropolis semakin banyak diimplementasikan di lokasi pengembangan bandara dunia.
Saat ini, banyak negara sudah berhasil merapkannya. Diantaranya, Amsterdam Airport Schipol di Belanda, Piedmot Triad Internasional Airport di Amerika Serikat, Incheon International Airport di Kota New Songdo Korea Selatan, Shenzen China, dan Dubai Airport di Dubai.
Beberapa bandara tersebut mampu mengintegrasikan kota, bandara, dan kawasan bisnis sehingga menjadi percontohan dalam menerapkan konsep aerotropolis yang atraktif, fungsional dan berkelanjutan.
Terdapat 84 bandara yang tersebar di Amerika, Eropa, Asia Pasifik, Timur Tengah hingga Afrika. Bandara ini dijadikan sebagai pusat pengembangan aerotropolis dan aerocity (aerotropolis.com, 2013).
Dari tahun ke tahun, angka ini terus bertambah khususnya di negara-negara berkembang. Di Belanda, konsep aerotropolis dikembangkan didekat bandara Schiphol Amsterdam yang membentuk distrik bisnis Zuidas.
Berbagai macam perusahaan skala global berkantor di distrik Zuidas. Hal ini menarik munculnya tempat-tempat hiburan, café, mall, dan restoran.
Sehingga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Selain itu, wilayah ini juga menyediakan kawasan hunian pegawai perusahaan yang bekerja di distrik Zuidas.
Indonesia Sudah Mulai
Keberhasilan dalam penerapan konsep aerotropolis ini membuat pemerintah Indonesia tertarik untuk mengembangkannya. Di Indonesia, aerotropolis diterapkan dibeberapa lokasi bandara baik yang sudah beroperasi maupun bandara baru yang sedang dibangun.
Diantaranya, Yogyakarta Internasional Airport di Kabupaten Kulon Progo, Kualanamu International Airport di Deli di Sumatera Utara, Soekarno-Hatta Internasional Airport di Banten, dan Sepinggan Internasional Airport di Balikpapan.








Leave a Reply