Polisi selidiki dugaan penggunaan perangkat remote pada ledakan di SMAN 72 Jakarta. Korban bertambah menjadi 96 orang.
Aktual Tangerang – Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, diduga melibatkan perangkat kendali jarak jauh atau remote. Namun, kepastian terkait hal itu masih menunggu hasil analisis tim Jihandak dan Laboratorium Forensik Polri.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyebut satuan Jihandak berwenang menjelaskan detail teknis bahan peledak.
“Nanti pihak jibom yang menjelaskan karena mereka lebih ahli menjabarkan barang bukti ledakan,” ujar Budi.
Ia mengatakan penyelidikan masih berlangsung dan melibatkan Densus 88 serta tim gabungan Polda Metro Jaya.
Analisis lanjutan dilakukan untuk mengetahui cara pelaku merakit dan mengoperasikan perangkat pemicu ledakan tersebut. Puslabfor Mabes Polri kini menganalisis jenis serbuk yang ditemukan di lokasi kejadian.
Budi menegaskan, polisi belum dapat menyimpulkan sumber ledakan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Ia juga meminta masyarakat tidak berspekulasi terkait bahan peledak yang digunakan.
“Apakah berasal dari bahan berbahaya atau tidak, itu domain Gegana dan Puslabfor,” katanya.

Budi menambahkan, hingga kini belum ditemukan kaitan pelaku dengan jaringan terorisme. Meski begitu, Densus 88 tetap mendalami seluruh kemungkinan dari hasil pemeriksaan dan keterangan saksi.
Polisi juga menelusuri makna tulisan berbahasa Inggris seperti ‘Welcome to Hell’ dan ‘For Agartha’ pada senjata mainan di lokasi.
“Hasil Densus 88, Puslabfor, Gegana, dan Reskrim akan dikompilasi agar informasi ke publik tidak bias,” tegas Budi.
Korban Ledakan 96 Orang
Sebelumnya, Polda Metro Jaya melaporkan jumlah korban ledakan di SMAN 72 Jakarta bertambah menjadi 96 orang.
Ledakan terjadi pada Jumat, 7 November 2025, saat kegiatan salat Jumat berlangsung di masjid sekolah.
“Kapolri Jenderal Listyo Sigit menyampaikan jumlah korban mencapai 96 orang,” ujar Budi di Polda Metro Jaya, Sabtu malam.
Dari total korban, 29 orang masih dirawat di rumah sakit, sementara 67 lainnya sudah diperbolehkan pulang.
Sebanyak 14 korban dirawat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, 14 di Rumah Sakit Yarsi, dan satu di Pertamina.








Leave a Reply