Tangsel Targetkan 108 Pos Gizi pada 2029

Adi Subchan - 24 September 2026

Pemkot Tangsel menargetkan 108 Pos Gizi pada 2029. Program ini diperkuat untuk menangani masalah gizi dan mencegah stunting. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)
Pemkot Tangsel menargetkan 108 Pos Gizi pada 2029. Program ini diperkuat untuk menangani masalah gizi dan mencegah stunting. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

Pemkot Tangsel menargetkan 108 Pos Gizi pada 2029. Program ini diperkuat untuk menangani masalah gizi dan mencegah stunting.

Aktual Tangerang – Pemerintah Kota Tangerang Selatan memperkuat peran Pos Gizi untuk menangani masalah gizi dan mencegah stunting sejak dini.

Saat ini, Pemkot Tangsel telah memiliki 61 Pos Gizi yang tersebar di sejumlah wilayah. Jumlah tersebut ditargetkan bertambah menjadi 108 Pos Gizi pada 2029.

“Target itu 2029 itu 108. Sekarang sudah ada 61. Target 2026, 61. Target 2029 ada 108 Pos Gizi se-Kota Tangerang Selatan yang tersebar di seluruh kecamatan dan kelurahan,” kata Pilar, usai kegiatan Launching Pos Gizi, di Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Tangsel, Kamis (24/9/2026).

Sasar Anak dengan Masalah Gizi

Menurut Pilar, Pos Gizi menyasar anak-anak yang mengalami kondisi gizi kurang. Sasarannya termasuk anak dengan berat badan yang tidak sesuai dengan kondisi ideal.

Pos Gizi juga menyasar ibu hamil dengan keterbatasan kemampuan finansial. Kondisi tersebut membuat sebagian ibu kesulitan memenuhi kebutuhan makanan bergizi.

Penentuan sasaran dilakukan melalui penilaian kader kesehatan bersama nutrisionis.

Baca Juga :  WNA China Kendalikan Sindikat Kawin Pesanan di Indonesia

Pilar menjelaskan, masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun menjadi periode penting. Periode tersebut menjadi masa kritis dalam upaya mencegah stunting.

“Anak-anak stunting itu dimulai dari masa hamil, ibunya hamil sampai dua tahun dia lahir, itu adalah masa-masa kritis stunting, 1.000 hari kehidupan,” ujarnya.

Karena itu, Pos Gizi tidak hanya difungsikan sebagai tempat pemberian makanan.

Fasilitas tersebut juga menjadi ruang edukasi dan pemantauan asupan makanan.

“Karena itu, Pos Gizi tidak hanya menjadi tempat pemberian makanan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi dan pemantauan asupan makanan,” tambah Pilar.

Jadi Ruang Dialog Orang Tua

Pilar mengatakan, keberadaan Pos Gizi memungkinkan petugas memantau makanan yang dikonsumsi anak. Petugas juga dapat berdialog dengan orang tua mengenai kondisi dan perkembangan anak.

“Jadi kalau di Pos Gizi itu bisa terawasi makanannya habis atau enggak, bagaimana pendapat dari orang tuanya. Jadi kita bisa berdialog,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemkot Tangsel Belum Bayar Lahan PSEL, Tunggu Appraisal

Menurut Pilar, pola tersebut membuat petugas dapat mengetahui kondisi anak secara langsung.

Petugas juga bisa mendapatkan masukan dari orang tua mengenai kebutuhan anak. Hal tersebut berbeda apabila makanan hanya dibagikan langsung ke rumah masing-masing.

“Kalau kita bagikan ke rumah-rumah kan kita tidak ada dialog. Kalau di Pos Gizi itu saling tukar pikiran, saling berdialog, diskusi, itu adanya di Pos Gizi. Makanya kita siapkan Pos Gizi itu,” katanya.

Pilar menambahkan, program Pos Gizi di Kota Tangerang Selatan telah berjalan sejak 2023. Pemkot Tangsel berencana memperkuat program tersebut melalui kolaborasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menambah dukungan makanan bergizi bagi kelompok sasaran. Kelompok tersebut mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Ke depan bersama-sama dengan SPPG nanti kita lihat apabila masih dirasa kurang, akan diperkuat oleh teman-teman dari SPPG,” kata Pilar.

Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat pemenuhan kebutuhan makanan bergizi bagi kelompok sasaran.

“Tujuannya adalah untuk memberikan makanan bergizi tambahan buat ibu hamil, ibu menyusui, dan juga balita,” pungkasnya. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini