PKL Villa Pamulang terancam digusur karena penataan bantaran kali. Endang khawatir kehilangan tempat berjualan dan sumber nafkah keluarga.
Aktual Tangerang – Rencana penataan bantaran kali di Villa Pamulang membuat Endang cemas kehilangan tempat mencari nafkah.
Endang merupakan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di bantaran kali kawasan Villa Pamulang. Lokasi tersebut berada di perbatasan Kota Tangerang Selatan, Banten.
Setiap pagi hingga sore, Endang menunggu pembeli di lapaknya. Ia mengandalkan hasil berjualan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Penghasilan tersebut juga digunakan untuk membiayai pendidikan dua anak laki-lakinya.
Pendapatan Endang setiap hari tidak selalu sama. Saat pembeli sepi, penghasilannya hanya sekitar Rp80.000. Ketika kondisi ramai, pendapatannya bisa mencapai Rp150.000 dalam sehari.
“Kadang-kadang enggak tentu juga, kadang 80, kadang 100, kadang lagi rame ya 150 per hari pendapatan,” ujar Endang, Tangsel, Jumat (18/9/2026).
Bagi Endang, penghasilan tersebut harus diputar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Uang hasil berjualan hari ini digunakan untuk mencukupi kebutuhan hingga keesokan harinya.
“Kita nyari ini (uang) dari pagi sampai sore, untuk makan buat besok,” tuturnya.
Setelah berjualan hingga sore, Endang menyerahkan penghasilannya kepada sang istri. Keesokan harinya, ia kembali berjualan untuk mendapatkan penghasilan.
“Besok lain lagi, kita dapat lagi sore, ngasih lagi ke istri sore. Buat sampai sore lagi kan habis. Muter begitu terus,” ujarnya.
Tujuh Tahun Berjualan di Pamulang
Endang mengatakan dirinya memiliki dua anak laki-laki yang masih bersekolah. Karena itu, hasil berjualan juga digunakan memenuhi kebutuhan pendidikan kedua anaknya.
“Saya punya anak dua, laki semua, sekolah di sini semua,” ujar Endang.
Endang telah berjualan di kawasan Pamulang selama sekitar tujuh tahun. Sekitar tiga tahun pertama dijalaninya di lokasi lain. Setelah itu, ia pindah ke bantaran kali tersebut dan berjualan selama empat tahun.
Menurut Endang, lokasi tersebut dipilih karena berada di jalur yang ramai. Selama bertahun-tahun, lokasi itu menjadi sumber penghasilan bagi dirinya dan keluarga. Namun, keberadaan lapaknya kini berada di tengah rencana penataan bantaran kali.
Endang mengaku telah mendapat pemberitahuan mengenai rencana pembongkaran lapak para pedagang. Ia tidak sepenuhnya menolak rencana pembongkaran untuk kepentingan penataan kawasan.
Namun, Endang berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi pedagang yang menggantungkan penghasilan dari lokasi tersebut.
“Kalau untuk pembongkaran sebenarnya harus bongkar-bongkar semua, jangan satu pihak. Maksudnya jangan di sini doang, harus semua,” ujarnya.
Khawatir Tak Punya Tempat Berjualan
Endang juga mengkhawatirkan biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun kembali tempat usaha.
Ia mengaku pembangunan lapaknya sebelumnya menghabiskan sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta. Biaya tersebut belum termasuk upah tukang dan kebutuhan lainnya.
“Kalau bangun sendiri saya enggak setuju,” ujar Endang.
Menurut Endang, hingga kini belum ada kepastian lokasi berjualan pengganti. Pedagang belum mendapat tawaran tempat usaha baru dari pemerintah.
Mereka juga belum mendapat bantuan untuk membangun kembali lapak.
“Kecuali kalau dibongkar, dikasih tempat untuk jualan. Sewanya sekian, enggak masalah. Itu kan enggak ada,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat Endang berharap pemerintah mempertimbangkan keberlangsungan hidup para pedagang.
Menurutnya, lapak bukan sekadar bangunan yang dapat ditertibkan. Lapak tersebut menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga setiap hari.
“Dia belum tahu rasanya orang berdagang itu kayak apa sih,” kata Endang.
Ia berharap pihak terkait memahami kondisi pedagang sebelum mengambil keputusan.
“Enggak usah banyak-banyak, satu minggu aja jalanin. Pendapatan itu berapa, pengeluaran itu berapa-berapa. Kan sangat sulit,” lanjutnya.
Di tengah rencana penataan bantaran kali, Endang berharap ada solusi bagi para pedagang. Solusi tersebut diharapkan tetap memberi ruang bagi pedagang untuk mencari nafkah.
Di sisi lain, kepentingan penataan kawasan juga tetap dapat berjalan. “Kita orang kecil,” pungkasnya. (*)








Leave a Reply