879 Anak di Tangsel Terpapar Stunting, Setu Tertinggi

Adi Subchan - 16 September 2026

Sebanyak 879 anak di Tangsel terdeteksi stunting hingga Agustus 2026. Kecamatan Setu mencatat 119 anak dengan prevalensi 1,57 persen. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)
Sebanyak 879 anak di Tangsel terdeteksi stunting hingga Agustus 2026. Kecamatan Setu mencatat 119 anak dengan prevalensi 1,57 persen. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

Sebanyak 879 anak di Tangsel terdeteksi stunting hingga Agustus 2026. Kecamatan Setu mencatat 119 anak dengan prevalensi 1,57 persen.

Aktual Tangerang – Sebanyak 879 anak di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, terdeteksi mengalami stunting hingga Agustus 2026.

Data tersebut berasal dari hasil pengukuran yang dilakukan pemerintah daerah hingga Agustus 2026.

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, data tersebut telah dihimpun secara akurat. Data itu disusun berdasarkan nama dan alamat atau by name by address.

Data tersebut kemudian disebarkan kepada seluruh kecamatan untuk ditindaklanjuti.

Kecamatan diminta mengidentifikasi kondisi setiap anak dan keluarganya secara langsung.

“Jadi, per Agustus ini jumlahnya segitu. Jadi, datanya akurat itu kita sampaikan kepada kecamatan,” kata Pilar.

Pilar mengungkapkan itu dalam kegiatan Publikasi Stunting Tingkat Kota di Kantor Puspemkot Tangsel, Rabu (16/9/2026).

“Nanti kalau misalkan di situ dicek, misalkan ternyata masih ada lingkungan yang tidak sehat, misalkan, ya, stunting itu karena lingkungannya misalkan tidak sehat,” tambahnya.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Banten Minggu 16 Agustus 2026, Mayoritas Cerah

Pilar mengatakan, identifikasi diperlukan untuk mengetahui faktor yang memengaruhi kondisi setiap anak.

Dari tujuh kecamatan di Tangsel, Kecamatan Setu mencatat jumlah anak stunting paling tinggi.

Terdapat 119 anak stunting di Kecamatan Setu dengan prevalensi mencapai 1,57 persen. Pemerintah masih mengidentifikasi penyebab tingginya angka stunting di wilayah tersebut.

Menurut Pilar, penanganan stunting dilakukan dengan melihat persoalan yang dihadapi setiap keluarga.

Faktor yang diperiksa dapat berkaitan dengan lingkungan, asupan gizi, hingga kondisi ekonomi.

“Makanya kita kan sampaikan kepada kecamatan untuk melakukan identifikasi permasalahan satu per satu,” katanya.

Pilar menjelaskan, petugas akan mendatangi langsung keluarga berdasarkan data yang telah dihimpun.

“Jadi, misalkan namanya si A di kelurahan ini, alamat jalan ini, RW sekian, RT sekian. Itu didatangin. Lalu dilihat masalahnya apa, diidentifikasi,” jelasnya.

Baca Juga :  Mantan Kasipidsus Kejari Kabupaten Tangerang Tutup Usia

Pilar menegaskan, prevalensi stunting di Tangsel masih berada di bawah satu persen. Meski demikian, persoalan stunting tetap menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah.

Ia mengatakan, penanganan stunting membutuhkan kerja sama seluruh pihak.

Prevalensi stunting Tangsel saat ini mencapai 0,75 persen. Angka tersebut turun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 0,79 persen.

“Walaupun Tangsel itu termasuk yang terendah, ya, di Indonesia, di Banten, tapi PR kita lah. PR kita, kita kerja keras bersama-sama,” pungkas Pilar. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini