54 Istri Lurah di Tangsel Dimintai Bantu Pencegahan Korupsi

Adi Subchan - 15 September 2026

Pemkot Tangsel melibatkan keluarga 54 lurah dalam program Keluarga Berintegritas untuk memperkuat pencegahan korupsi di pemerintahan. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)
Pemkot Tangsel melibatkan keluarga 54 lurah dalam program Keluarga Berintegritas untuk memperkuat pencegahan korupsi di pemerintahan. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

Pemkot Tangsel melibatkan keluarga 54 lurah dalam program Keluarga Berintegritas untuk memperkuat pencegahan korupsi di pemerintahan.

Aktual Tangerang – Pemkot Tangerang Selatan mendorong keluarga pejabat menjadi garda terdepan dalam mencegah praktik korupsi.

Upaya tersebut dilakukan melalui program Keluarga Berintegritas yang digelar Inspektorat Tangsel. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Blandongan, Puspemkot Tangsel, Selasa (15/9/2026).

Sebanyak 54 lurah di Kota Tangsel mengikuti bimbingan teknis bersama pasangan masing-masing.

Program tersebut bertujuan memperkuat peran keluarga dalam menjaga integritas aparatur pemerintahan.

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie menilai keluarga memiliki peran penting dalam menjaga integritas seorang pejabat.

Menurutnya, penghasilan pejabat pada akhirnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, keluarga dinilai dapat menjadi pengingat ketika terdapat sesuatu yang tidak wajar.

“Keluarga mempunyai peran yang sangat penting. Karena bagaimanapun secara alamiah gaji kita, penghasilan kita, semuanya itu untuk keluarga,” kata Benyamin.

“Sehingga keluarga ini menjadi garda terdepan dalam mencegah terjadinya korupsi di tingkat pemerintahan daerah, khususnya di kelurahan,” sambungnya.

Baca Juga :  Wali Kota Jamin Hewan Kurban di Tangsel Bebas Penyakit

Pasangan Lurah Diminta Jadi Pengingat

Benyamin menjelaskan pelibatan pasangan lurah bukan untuk mencampuri urusan pemerintahan.

Pasangan juga tidak diminta mengintervensi pekerjaan teknis yang menjadi tugas lurah.

Sebaliknya, pasangan diharapkan menjadi pengingat ketika menemukan sesuatu yang dianggap tidak wajar. Terutama ketika terdapat penerimaan uang dengan jumlah yang tidak biasa.

“Bukan soal teknis pemerintahan, tugas-tugasnya. Memang mungkin pasangan itu tidak bisa intervensi, karena ada rambu-rambu,” ujarnya.

Benyamin kemudian menggambarkan pasangan sebagai “rem” sederhana dalam kehidupan keluarga.

Menurutnya, pasangan dapat mempertanyakan asal uang yang diterima pejabat.

Pengingat tersebut juga dapat diberikan ketika jumlah uang yang diterima terlihat tidak biasa. “Kalau dikasih duit kegedean, ‘Kok gede amat, tumben amat?’, rem, gitu kan,” ucap Benyamin.

Selain itu, pasangan dapat mengingatkan pejabat agar mencari penghasilan dari sumber yang halal.

“Atau diwanti-wanti sejak awal berangkat, ‘Pak, hati-hati ya. Bismillah, cari rezeki yang halal aja,’ kayak gitu, jadi rem,” tambahnya.

Baca Juga :  Gagal Paham! Sampah di Kolong Flyover Ciputat Hanya Ditutup Terpal

Bangun Integritas dari Lingkungan Keluarga

Benyamin menilai pengawasan keluarga menjadi bagian penting dalam membangun budaya integritas. Upaya tersebut dimulai dari lingkungan terdekat para pejabat pemerintahan.

Dengan demikian, pencegahan korupsi tidak hanya mengandalkan pengawasan internal pemerintahan. Peran keluarga juga dapat memperkuat upaya pencegahan korupsi di tingkat pemerintahan daerah.

Program Keluarga Berintegritas diharapkan membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga integritas.

Khususnya, integritas para lurah dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini