El Nino Mengancam Tangsel, Kekeringan Diprediksi hingga 2027

Adi Subchan - 11 September 2026

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan menyalurkan air bersih. Tangsel berpotensi menghadapi kekeringan meluas hingga awal 2027. BPBD mencatat 16.485,47 hektar wilayah berpotensi terdampak. (Foto: BPBD Tangsel)
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan menyalurkan air bersih. Tangsel berpotensi menghadapi kekeringan meluas hingga awal 2027. BPBD mencatat 16.485,47 hektar wilayah berpotensi terdampak. (Foto: BPBD Tangsel)

Tangsel berpotensi menghadapi kekeringan meluas hingga awal 2027. BPBD mencatat 16.485,47 hektar wilayah berpotensi terdampak.

Aktual Tangerang – Kota Tangerang Selatan berpotensi menghadapi kekeringan meluas hingga awal 2027 akibat fenomena El Nino.

BPBD Tangsel mencatat potensi kekeringan kini membayangi hampir seluruh kecamatan di wilayah tersebut.

Sekretaris BPBD Tangsel Essa Nugraha mengatakan, total area yang berpotensi terdampak mencapai 16.485,47 hektar.

Dari tujuh kecamatan, Kecamatan Setu memiliki potensi bahaya kekeringan kategori sedang. Sementara enam kecamatan lainnya berada pada tingkat risiko rendah.

“Lalu kemudian total luas hektarnya yang memiliki potensi bahaya kekeringan itu 16.485,47 yang berpotensi terkena bahaya kekeringan,” kata Essa, Kamis (10/9/2026).

Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang berdampak terhadap pembentukan awan hujan.

Baca Juga :  8 Kecamatan di Kota Tangerang Masuk Zona Rawan Kekeringan

Fenomena tersebut merupakan pemanasan suhu permukaan laut di tengah dan timur Samudra Pasifik tropis.

Dampaknya, musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan berlangsung lebih panjang.

Kemarau Tangsel Datang Lebih Awal

Essa mengatakan pola musim kemarau 2026 berbeda dibandingkan periode tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, dampak kemarau mulai dirasakan masyarakat Tangsel sejak Juli 2026. Kondisi tersebut lebih cepat dibandingkan pola kemarau pada 2023.

“Kalau dulu di 2023 itu kemarau terjadi di September-Oktober, tapi tahun ini dari Juli sudah terjadi,” tuturnya.

Kondisi kemarau yang datang lebih awal meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Tangsel.

BPBD Tangsel kemudian menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi ancaman tersebut.

Baca Juga :  Komplotan Curanmor di Tangerang Digulung Polisi

BPBD Salurkan Air Bersih

BPBD Tangsel terus menyalurkan air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak kekeringan.

Selain distribusi air, BPBD Tangsel turut mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Operasi tersebut dilakukan BNPB untuk wilayah Jabodetabek guna meningkatkan peluang terjadinya hujan.

“Kekeringan ini sudah terjadi, lalu kemudian distribusi air bersih sedang kita lakukan. Selain itu, khususnya di Jabodetabek, BNPB sedang melakukan operasi modifikasi cuaca,” lanjut Essa.

Masyarakat juga diminta melakukan efisiensi penggunaan air selama periode kemarau panjang.

BPBD Tangsel mengimbau warga memisahkan pemanfaatan air berdasarkan tingkat kebersihannya.

Air bersih dari BPBD diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi dan memasak. Sementara air hujan dianjurkan ditampung untuk memenuhi kebutuhan sanitasi rumah tangga.

“Bisa dipisahkan, sumber air bersih dari BPBD untuk kegiatan makan minum atau memasak. Lalu air hujan ketika turun ditampung untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK),” pungkas Essa.

Upaya tersebut diharapkan membantu masyarakat menghadapi potensi kekeringan yang berlangsung hingga awal 2027. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini