Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan di 8 Bandara

Adi Subchan - 08 September 2026

Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu sebaran abu vulkanik hingga delapan bandara ditutup sementara demi keselamatan penerbangan. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)
Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu sebaran abu vulkanik hingga delapan bandara ditutup sementara demi keselamatan penerbangan. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu sebaran abu vulkanik hingga delapan bandara ditutup sementara demi keselamatan penerbangan.

Aktual Tangerang – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu keselamatan penerbangan hingga memicu penutupan sementara delapan bandara.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pihaknya terus memantau dampak erupsi dan dinamika sebaran abu vulkanik.

Faisal meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik menghadapi kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Masyarakat tidak perlu panik. langkah penutupan sementara delapan bandara ini merupakan bentuk mitigasi proaktif dan respons cepat otoritas penerbangan demi menjamin keselamatan perjalanan kita bersama,” kata Faisal, Senin (7/9).

Sementara itu, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan abu vulkanik mengganggu keselamatan penerbangan.

Hasil paper test pada Senin (7/9/2026) pukul 07.00 WIB mengonfirmasi keberadaan abu vulkanik.

Abu vulkanik tersebut terdeteksi di sejumlah bandara yang terdampak sebaran material erupsi.

Baca Juga :  Anak Krakatau Erupsi, Distribusi MBG di Kabupaten Tangerang Berubah

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM).

NOTAM tersebut menginstruksikan penutupan sementara delapan bandara hingga pukul 18.00 WIB. Penutupan operasional tersebut berdampak pada bandara di wilayah Sumatra dan Jawa.

Delapan bandara tersebut mencakup Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II (Lampung), dan Husein Sastranegara (Bandung).

Selain itu, Bandara Budiarto Curug, Pondok Cabe Tangsel, Muhammad Taufiq Kiemas (Lampung), dan Atungbusu (Sumater Selatan) juga ditutup sementara.

“Hasil paper test tersebut menjadi verifikasi lapangan yang melengkapi hasil pemantauan sebaran abu vulkanik melalui citra satelit dan informasi meteorologi penerbangan, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai wilayah yang terdampak,” ujarnya.

Abu Vulkanik Menyebar ke Lima Provinsi

Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat dalam beberapa hari terakhir dan berdampak terhadap penerbangan.

Sebaran abu vulkanik juga dilaporkan menjangkau sedikitnya lima provinsi.

Pemerintah bersama BMKG, Badan Geologi, AirNav Indonesia, dan Kementerian Perhubungan terus memantau perkembangan tersebut.

Pemantauan dilakukan untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi erupsi dan pergerakan abu vulkanik.

Baca Juga :  Ratusan Siswa Tangsel Gelar Demo, Tuntut Usut Kasus Child Grooming

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan.

“Aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara terus-menerus,” kata Lana, Minggu (6/9/2026).

Lana menjelaskan peningkatan aktivitas tersebut dipicu aktivitas magma yang masih berlangsung di dalam tubuh gunung. Namun, kondisi Gunung Anak Krakatau masih sangat fluktuatif dan belum dapat diprediksi secara tepat.

Badan Geologi belum dapat memastikan waktu maupun besaran erupsi susulan yang mungkin terjadi. Karena itu, pemantauan kondisi gunung akan terus dilakukan secara berkala.

Badan Geologi menyebut abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar ke lima provinsi. Wilayah tersebut meliputi Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.

“Berdasarkan gabungan informasi erupsi dan aktivitas vulkanik dari PVMBG melalui MAGMA Indonesia, informasi VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung, dan Bengkulu,” ujar Lana.

Menurut Lana, arah dan jangkauan abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi angin.

Arah dan kecepatan angin pada berbagai ketinggian turut memengaruhi pergerakan material vulkanik.

Selain angin, tinggi kolom erupsi turut menentukan luas wilayah yang terdampak abu vulkanik.

Durasi erupsi dan jumlah material yang dikeluarkan juga memengaruhi arah serta luas sebaran abu. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini