Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Banten dan Lampung Diminta Waspada

Adi Subchan - 05 September 2026

Gunung Anak Krakatau erupsi 11 kali pada Senin 24 Agustus 2026. Kolom abu tertinggi mencapai 400 meter dan warga diminta menjauh. (FOTO: Tangkapan layar)
Gunung Anak Krakatau erupsi 11 kali pada Senin 24 Agustus 2026. Kolom abu tertinggi mencapai 400 meter dan warga diminta menjauh. (FOTO: Tangkapan layar)

Gunung Anak Krakatau masih erupsi menerus dan berstatus Level III Siaga. Warga diminta menjauhi radius tiga kilometer.

Aktual Tangerang – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sejumlah warga di Banten dan wilayah sekitarnya merasakan getaran.

Getaran tersebut dilaporkan dirasakan warga di Kecamatan Labuan dan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kementerian ESDM memastikan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya akibat aktivitas vulkanik tersebut.

Potensi bahaya saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar. Warga juga diminta mewaspadai awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus disertai suara gemuruh sejak Jumat (4/9/2026). Erupsi tersebut mulai tercatat pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.

Berdasarkan Laporan Khusus Nomor 1512.Lap/GL.03/BGL/2026 dari Kementerian ESDM, erupsi masih berlangsung. Erupsi tersebut masih terpantau hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 04.40 WIB.

Suara gemuruh juga terdengar dari Pos PGA Krakatau Pasauran, Kabupaten Serang.

Baca Juga :  TPP ASN Tangsel Disorot, Ada Dugaan Pembayaran Tidak Wajar

Tinggi kolom erupsi tidak teramati dalam pemantauan tersebut. Namun, semburan berwarna merah menyala terlihat jelas secara menerus dari lokasi pengamatan.

Fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang menghasilkan aliran lava.

Menurut laporan Kementerian ESDM, erupsi menerus selama beberapa jam merupakan fenomena yang umum terjadi.

Fenomena tersebut sering berkaitan dengan aktivitas erupsi lava air mancur.

Getaran Diduga Berkaitan dengan Erupsi

Suara dentuman dan getaran dilaporkan dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Wilayah tersebut meliputi Jawa Barat, Banten, dan Lampung.

Getaran tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Aktivitas erupsi berlangsung pada waktu yang bersamaan dengan laporan getaran masyarakat.

Berdasarkan evaluasi terbaru, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau masih relatif kecil. Gunung tersebut terbentuk kembali setelah mengalami erupsi pada 22 Desember 2018.

Pertumbuhan tubuh gunung saat ini dinilai tidak berpotensi runtuh dalam skala yang memicu tsunami. Meski demikian, perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif.

Baca Juga :  Gunung Anak Krakatau Erupsi, Lima Bandara Ditutup Sementara

Warga Diminta Menjauhi Radius 3 Kilometer

Kementerian ESDM mengeluarkan sejumlah rekomendasi teknis terkait status Level III atau Siaga. Masyarakat dan pengunjung tidak diperbolehkan memasuki wilayah radius tiga kilometer dari pusat aktivitas.

Larangan tersebut berlaku bagi masyarakat sekitar, wisatawan, maupun pendaki.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bahaya erupsi. Ancaman tersebut meliputi awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.

Sementara itu, masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang. Warga dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan BPBD setempat.

Informasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui kanal resmi pemerintah. Masyarakat dapat mengakses informasi melalui situs Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Informasi juga tersedia melalui platform Magma Indonesia dan media sosial Badan Geologi.

Pemantauan dilakukan melalui dua pos pengamatan gunung api. Pos tersebut berada di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda.

Secara administratif, gunung tersebut berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini