Pemkot Tangsel belum memiliki lahan alternatif SMPN 25. Warga menolak pembangunan karena khawatir kapasitas sekolah dan kemacetan.
Aktual Tangerang – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) belum memiliki lahan alternatif untuk pembangunan gedung SMP Negeri 25.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, keterbatasan lahan menjadi kendala utama pemerintah daerah.
“Sementara belum ada (opsi lahan lain). Karena memang lahan di Tangerang Selatan ini terbatas,” ujar Pilar di Ciputat, Tangsel, Rabu (2/9/2026).
Menurut Pilar, penyediaan fasilitas pendidikan tingkat pertama di setiap kelurahan menjadi salah satu prioritas mendesak.
Keberadaan sekolah negeri dinilai penting untuk menampung anak-anak usia sekolah di wilayah sekitar.
“Termasuk warga di wilayah kelurahan tersebut pasti butuh sekolah. Kalau sekolahnya enggak ada, mereka mau anak-anaknya sekolah di mana?” tutur Pilar.
Meski belum memiliki lahan alternatif, Pemkot Tangsel tidak mengabaikan kekhawatiran warga sekitar.
Warga sebelumnya menyoroti potensi kemacetan dan kepadatan lalu lintas akibat pembangunan SMP Negeri 25 Tangsel.
Pilar kemudian menginstruksikan camat, lurah, dan Dinas Cipta Karya melakukan komunikasi persuasif dengan warga.
Pendekatan tersebut diharapkan menghasilkan solusi bersama tanpa mengesampingkan kebutuhan fasilitas pendidikan.
“Makanya duduk bersama supaya ada kesepakatan dulu dengan warga di situ, itu yang paling penting,” tegasnya.
Pemkot Tangsel juga akan melibatkan Dinas Perhubungan (Dishub) dalam kajian Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin).
Kajian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah merespons kekhawatiran warga terkait kondisi lalu lintas.
Penolakan Warga
Sebelumnya, rencana pembangunan SMP Negeri 25 di Perumahan Bukit Nusa Indah mendapat penolakan keras warga. Sekolah tersebut direncanakan berdiri di Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan.
Warga menilai pembangunan gedung empat lantai tersebut tidak masuk akal dan memaksakan kapasitas.
Lahan sekolah dinilai terlalu sempit untuk menampung target daya tampung hingga 1.000 siswa.
Ketua RT 03 Perumahan Bukit Nusa Indah, Yuni, menjelaskan alasan warga menolak pembangunan tersebut.
“Luas tanahnya hanya sekitar 2.500 meter persegi, lebar jalan masuk kurang lebih hanya 4 meter, tetapi mau dibangun empat lantai untuk 1.000 siswa. Itu rasanya sudah tidak masuk akal,” kata Yuni saat ditemui di lokasi, Senin (31/8/2026).
Menurut Yuni, jumlah tersebut belum mencakup guru dan tenaga pendidik lainnya. Total penghuni dan aktivitas sekolah diperkirakan dapat melibatkan lebih dari 1.100 orang. Kondisi tersebut dikhawatirkan meningkatkan kepadatan lalu lintas di sekitar perumahan.
Warga juga mengkhawatirkan kenyamanan lingkungan jika pembangunan sekolah tetap dilanjutkan.
Dengan kondisi tersebut, Pemkot Tangsel kini berupaya mencari titik temu dengan masyarakat.
Pemkot tetap membutuhkan fasilitas pendidikan, sementara warga meminta dampak pembangunan terhadap lingkungan diperhitungkan. (*)









Leave a Reply