Gagal Berangkat Umrah, 14 Jemaah Laporkan Travel di Tangsel

Adi Subchan - 27 August 2026

Sebanyak 14 jemaah melaporkan travel PT SBI ke Polres Tangsel setelah gagal berangkat umrah. Kerugian rombongan mencapai Rp512 juta. (FOTO: iStockphoto/Ilustrasi)
Sebanyak 14 jemaah melaporkan travel PT SBI ke Polres Tangsel setelah gagal berangkat umrah. Kerugian rombongan mencapai Rp512 juta. (FOTO: iStockphoto/Ilustrasi)

Sebanyak 14 jemaah melaporkan travel PT SBI ke Polres Tangsel setelah gagal berangkat umrah. Kerugian rombongan mencapai Rp512 juta.

Aktua Tangerang – Dugaan penipuan perjalanan umrah dilaporkan ke Polres Tangerang Selatan. Korban bernama Dendy Pradana melaporkan perusahaan agen travel PT SBI pada Senin (24/8/2026).

Laporan dibuat setelah sejumlah jemaah gagal berangkat ke Tanah Suci sesuai jadwal.

Dendy mengatakan, kerugian materiil yang dialami rombongannya mencapai ratusan juta rupiah.

“Total dari kami dan kawan-kawan nominalnya sekitar Rp 512 juta. Itu baru dari kami,” ujar Dendy, Rabu (26/8/2026).

Menurut Dendy, terdapat 14 korban dalam rombongan keluarga dan kerabatnya. Namun, jumlah jemaah terdampak diperkirakan lebih banyak berdasarkan keterangan pihak travel.

Pihak penyedia jasa perjalanan tersebut menyebut jumlah jemaah terdampak mencapai sekitar 90 orang.

Upaya Kekeluargaan Tak Membuahkan Hasil

Dendy mengatakan, laporan polisi ditempuh setelah upaya penyelesaian secara kekeluargaan tidak membuahkan hasil.

“Kami sebenarnya sebelum melakukan pelaporan sudah melakukan musyawarah secara kekeluargaan,” kata Dendy.

Baca Juga :  Kapolri Suyudi Rotasi 19 Kapolda, Ini Daftarnya

Namun, dana yang telah dibayarkan jemaah belum dikembalikan hingga laporan dibuat.

“Sampai dengan saat ini, 24 Agustus 2026, kami sepeser pun belum dikembalikan,” tegasnya.

Dendy mengaku telah mengantongi sejumlah bukti terkait pembayaran kepada agen travel. Bukti tersebut juga mencakup dokumen mengenai kesanggupan pengembalian dana.

“Semua lengkap. Dari bukti transfer, lalu ketika gagal memberangkatkan, travel juga membuat surat bahwa akan melunasi sampai batas waktu tertentu,” jelas Dendy.

Menurut dia, pihak travel sempat meminta tambahan waktu selama 10 hari. Sebelumnya, jemaah telah memberikan kesempatan selama satu bulan untuk menyelesaikan pengembalian dana.

Namun, pengembalian tersebut tetap tidak terealisasi hingga jemaah akhirnya melayangkan somasi.

“Tidak ada iktikad baik, sepeser pun walaupun sejuta pun tidak ada masuk ke kami,” kata dandy.

Travel Berdalih Tak Sanggup Bayar Biaya Tuslah

Dendy mengatakan, pihak travel menyampaikan alasan tidak mampu membayar biaya tuslah.

Alasan tersebut disampaikan pada 9 Juli 2026, atau dua hari sebelum keberangkatan. Rombongan seharusnya berangkat menuju Tanah Suci pada 11 Juli 2026.

“Karena mereka menginfokan bahwa tidak sanggup membayar terkait tuslah sekitar Rp350 sekian juta kepada pihak Garuda (maskapai penerbangan),” tutur Dendy.

Baca Juga :  Dor! Pelaku Ganjal ATM di RS Pamulang Ambruk Ditembus Peluru

Menurut Dendy, persoalan biaya tambahan semestinya dibahas sejak awal. Sebab, seluruh biaya paket umrah rombongannya telah dibayarkan secara tunai.

“Kami bayarnya langsung cash. Tiga hari cash ke mereka, lunas,” ujarnya.

Selain persoalan biaya, dokumen perjalanan juga disebut belum terbit menjelang keberangkatan.

“Sampai H-2 kita tanya, visa dan tiket itu belum terbit,” tambah dia.

Soroti Dugaan Sistem Pemasaran Berjenjang

Selain meminta pengembalian dana, Dendy menyoroti mekanisme pemasaran PT SBI.

Ia menduga sistem perekrutan jemaah yang diterapkan menyerupai pola pemasaran berjenjang.

“Belakangan saya mendapat informasi bahwa sistem marketing perekrutan jamaah ini menyerupai MLM, nanti kita tunggu hasil penyelidikan dari pihak yang berwenang terkait dengan kebenarannya,” ujar Dendy.

Dendy juga mempertanyakan klaim pihak travel mengenai jumlah jemaah terdampak. Menurutnya, angka sekitar 90 jemaah tersebut masih sebatas pengakuan pihak travel.

Konsep platform yang digunakan travel disebut menggabungkan sejumlah kelompok jemaah. Namun, rombongan Dendy mengaku belum pernah bertemu dengan jemaah dari kelompok lain.

“Iya, karena 90 itu pengakuan. Yang lain itu enggak ada. Kita belum pernah ketemu,” ucapnya.

Dendy mengaku kecewa karena keberangkatan orang tuanya telah dipersiapkan bersama keluarga. Apalagi, dana umrah tersebut dikumpulkan secara swadaya oleh keluarga dan kerabat.

“Orangtua dari Sulawesi datang ke sini untuk umrah. Kita semua patungan memberangkatkan orangtua,” ungkap Dendy.

Ia berharap laporan tersebut dapat diproses aparat penegak hukum.

Dendy juga berharap seluruh dana jemaah dapat dikembalikan oleh pihak travel.

“Kalau saya sih karena kita enggak dendam, lebih kepada dibalikin deh semuanya. Jadi saya berharap ke depannya enggak ada lagi seperti saya yang gagal berangkat. Mohon doanya kawan-kawan semua,” pungkasnya. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini