Diprediksi Puncak Kemarau di Tangsel September 2026

Adi Subchan - 12 August 2026

FOTO: Chatgpt/Aktual Tangerang
FOTO: Chatgpt/Aktual Tangerang

Tangsel diprediksi memasuki puncak kemarau September 2026. BMKG meminta warga menghemat air dan mewaspadai kekeringan.

Aktual Tangerang – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) diprediksi menghadapi puncak musim kemarau pada September 2026.

Curah hujan diperkirakan tetap rendah selama periode tersebut. Masyarakat diminta mewaspadai potensi kekeringan dan keterbatasan pasokan air bersih.

Kepala BBMKG Wilayah II Hartanto mengatakan seluruh wilayah Banten telah memasuki musim kemarau.

Menurutnya, puncak musim kemarau di sejumlah wilayah Banten berlangsung hingga September 2026.

“Prediksi puncak musim kemarau 2026 di wilayah Banten berada pada bulan Juli hingga September 2026,” ujar Hartanto, Rabu (12/8/2026).

Berdasarkan pemetaan BMKG, Tangsel berada di Zona Musim (ZOM) 168. Zona tersebut mencakup selatan Kota Tangerang dan tenggara Kabupaten Tangerang.

Wilayah dalam zona tersebut diprediksi mencapai puncak musim kemarau pada September.

Kondisi atmosfer regional turut memengaruhi rendahnya curah hujan di wilayah Banten. Aktivitas konvektif atmosfer diperkirakan mengalami penurunan.

Baca Juga :  Di Markas PBB, Prabowo Gaungkan Kemerdekaan Palestina

Kondisi tersebut membuat pertumbuhan awan hujan dan peluang terjadinya hujan ikut berkurang.

“Kondisi atmosfer regional berkontribusi terhadap penurunan curah hujan di wilayah Indonesia termasuk wilayah Banten,” jelas Hartanto.

“Kondisi ini mengurangi aktivitas konvektif di atmosfer sehingga pertumbuhan awan konvektif dan potensi hujan cenderung menurun,” lanjutnya.

Pada dasarian II dan III Agustus, curah hujan Banten diprediksi berada dalam kategori rendah.

Curah hujan pada periode tersebut diperkirakan berkisar 0-20 milimeter. Kondisi serupa diprediksi berlanjut hingga September.

BMKG Imbau Warga Hemat Air

BMKG meminta masyarakat mulai mengantisipasi berbagai dampak musim kemarau. Salah satu dampak yang perlu diantisipasi ialah berkurangnya ketersediaan air bersih.

Hartanto juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi penguatan fenomena El Niño.

“Masyarakat di Provinsi Banten diimbau untuk mewaspadai potensi penurunan curah hujan seiring dengan menguatnya kondisi El Niño,” katanya.

Menurut Hartanto, kondisi tersebut berpotensi memperpanjang musim kemarau. Risiko kekeringan meteorologis juga berpotensi meningkat.

Baca Juga :  Pasok Air Bersih untuk Warga Tangsel, IPA Pesanggrahan Diresmikan

Dampaknya dapat berupa berkurangnya ketersediaan air dan penurunan debit sungai.

“Masyarakat diharapkan melakukan penghematan penggunaan air, menjaga sumber-sumber air bersih,” ujarnya.

“Masyarakat juga perlu mengoptimalkan irigasi dan distribusi air untuk lahan pertanian,” lanjut Hartanto.

Ia juga meminta masyarakat tidak membakar lahan atau sampah secara terbuka.

Selain Tangsel, sejumlah wilayah Banten mengalami periode hari tanpa hujan cukup panjang.

Wilayah pesisir utara dan selatan Banten didominasi kategori sangat panjang. Periode tanpa hujan mencapai 31-60 hari.

Kategori ekstrem lebih dari 60 hari juga tercatat di sejumlah wilayah Banten. Kondisi tersebut terjadi di Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon, dan Kabupaten Lebak.

BMKG turut mengingatkan potensi peningkatan kecepatan angin di Banten bagian selatan. Kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang tinggi lebih dari 2,5 meter.

Potensi gelombang tinggi berada di Selat Sunda bagian barat Pandeglang. Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di perairan selatan Pandeglang dan Lebak.

Sementara itu, pesisir utara Kabupaten Tangerang perlu mewaspadai potensi banjir pesisir atau rob.

BMKG mencatat potensi rob pada 9-10 Agustus 2026. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Teluknaga, Mauk, dan Kosambi.

Kekeringan Mulai Dirasakan Warga Keranggan

Kekeringan juga mulai dirasakan warga Kampung Keranggan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu.

Warga RT 12/RW 05 mulai kesulitan memperoleh air bersih sejak pertengahan Juli 2026. Kondisi tersebut membuat Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tangsel menyalurkan bantuan air bersih.

Sarpras PMI Kota Tangsel Sutikno Yusuf mengatakan distribusi air menghadapi kendala akses. Jalan menuju RT 12/RW 05 tergolong sempit. Kondisi tersebut membuat mobil tangki berukuran besar tidak dapat masuk.

“Untuk RT 12/RW 05 memang tidak bisa masuk mobil tangki besar,” kata Sutikno. “Makanya kita menggunakan mobil pickup PMI Tangsel dengan kapasitas toren 1.000 liter,” lanjutnya.

PMI kemudian mengangkut air menggunakan mobil pickup yang telah dilengkapi toren. Air bersih dibawa secara bertahap menuju lokasi permukiman warga.

Proses distribusi sempat mengalami kendala. Mobil PMI bahkan terperosok ketika melewati akses jalan sempit.

Petugas harus mengosongkan air dalam toren sebelum kendaraan dapat diangkat. “Mobil ini dikosongkan terlebih dahulu airnya, baru kita upayakan pengangkatan,” ujar Sutikno.

“Karena jalannya sempit, kendaraan tidak bisa leluasa bergerak,” lanjutnya.

Meski terkendala akses, PMI tetap berupaya memenuhi kebutuhan air warga. Dalam sehari, sekitar 4.000 liter air bersih disalurkan ke wilayah tersebut.

Air itu ditampung dalam dua toren milik warga. Masing-masing toren memiliki kapasitas 2.000 liter. Sementara itu, toren pada kendaraan PMI hanya berkapasitas 1.000 liter.

Kondisi tersebut membuat petugas harus beberapa kali melakukan perjalanan setiap hari.

“Sehari sekitar 4.000 liter yang kita distribusikan. Karena kapasitas toren di mobil 1.000 liter, pengangkutannya memang harus beberapa kali,” jelas Sutikno.

PMI Minta Respons Penanganan Dipercepat

Sutikno mengatakan kekeringan di Keranggan mulai terjadi sejak pertengahan Juli 2026. Jika kemarau berlanjut, wilayah yang mengalami kesulitan air bersih berpotensi bertambah luas.

PMI Tangsel meminta kelurahan dan kecamatan meningkatkan pemantauan terhadap wilayah terdampak.

“Untuk sementara imbauan dari PMI lebih kepada pihak kelurahan dan kecamatan agar lebih sering memantau wilayahnya,” katanya.

Menurut Sutikno, kecepatan respons menjadi faktor penting dalam penanganan krisis air bersih.

Ia meminta proses administrasi tidak menghambat penyaluran bantuan kepada masyarakat.

“Kalau ada pengajuan air bersih, jangan sampai terhambat surat-menyurat. Dahulukan airnya, surat bisa menyusul,” tegasnya.

Ia berharap koordinasi masyarakat, kelurahan, kecamatan, BPBD, dan PMI terus diperkuat.

Koordinasi diperlukan agar bantuan dapat segera dikirim ketika warga mulai kesulitan air.

Bagi warga Keranggan, pasokan air bersih menjadi kebutuhan mendesak selama musim kemarau.

Distribusi air tersebut membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak kekeringan. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini