Serpong Jadi Wilayah dengan Stunting Tertinggi di Tangsel

Adi Subchan - 10 August 2026

ILUSTRASI - Kecamatan Serpong menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Tangsel. Dinkes menjalankan Program SIGAP Anak Sehat 2026. (Foto: Chatgpt/Aktual Tangerang)
ILUSTRASI - Kecamatan Serpong menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Tangsel. Dinkes menjalankan Program SIGAP Anak Sehat 2026. (Foto: Chatgpt/Aktual Tangerang)

Kecamatan Serpong menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Tangsel. Dinkes menjalankan Program SIGAP Anak Sehat 2026.

Aktual Tangerang – Kecamatan Serpong menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Prevalensi stunting di wilayah tersebut tercatat mencapai 1,45 persen.

Kondisi itu membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel memilih Serpong sebagai lokasi perdana Program SIGAP Anak Sehat 2026.

Program tersebut menyasar 60 balita yang mengalami permasalahan gizi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Tangsel, Lilis Suryani, mengatakan program melibatkan enam puskesmas. Masing-masing puskesmas menangani 10 balita dalam program tersebut.

“Di wilayah Kecamatan Serpong ada enam puskesmas. Satu puskesmas kita pilih 10 balita yang diusahakan di bawah dua tahun,” ujar Lilis.

Pernyataan itu disampaikan usai acara peluncuran Program SIGAP Anak Sehat 2026 di Puspemkot Tangsel, Senin (10/8/2026).

Baca Juga :  Akhirnya Kepsek SMPN 19 Tangsel Bicara Soal Kasus Bullying

Lilis mengatakan balita peserta program mengalami berbagai permasalahan gizi. Kondisinya meliputi berat badan kurang, gizi kurang, hingga berat badan yang tidak mengalami kenaikan.

“Kategorinya yang bermasalah gizinya, ada berat badan kurang, ada yang gizi kurang, ada yang tidak naik berat badannya,” katanya.

Selama 56 hari, para balita akan mendapatkan intervensi melalui pemberian makanan tambahan (PMT).

PMT diberikan dalam bentuk makanan padat dengan komposisi gizi seimbang. Menu tersebut mencakup karbohidrat, protein, sayur, dan buah.

Selain pemberian makanan, keluarga balita juga memperoleh pendampingan dari nutrisionis. Edukasi diberikan oleh nutrisionis yang berada di masing-masing puskesmas.

“Intervensinya diberikan makanan tambahan selama 56 hari berupa makanan padat,” ucap Lilis.

“Komposisinya ada karbohidrat, protein, sayur dan buah, kemudian juga ada edukasi dari nutrisionis di masing-masing puskesmas,” jelasnya.

Lilis menjelaskan Serpong dipilih berdasarkan tingginya prevalensi stunting dibandingkan wilayah lain. Kelurahan Lengkong Wetan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus terbanyak.

“Kalau prevalensinya sih Serpong 1,45. Dari seluruh Kota Tangerang Selatan, Kecamatan Serpong memang paling tinggi dan paling tinggi ada di Kelurahan Lengkong Wetan. Kalau jumlah agregatnya itu 185 balita,” ungkapnya.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Wilayah Banten, Rabu 19 November 2025

Dinkes Tangsel juga menggunakan sistem digital untuk memantau perkembangan balita peserta program. Pemantauan dilakukan melalui aplikasi Stunting Hub.

Kader dan petugas puskesmas akan memantau perkembangan setiap balita secara berkala.

“Setelah mereka dan kadernya diajarkan, ada aplikasi Stunting Hub. Jadi nanti pemantauan dilakukan setiap hari. Balitanya difoto lalu diunggah ke aplikasi,” katanya.

Sebelum menerima PMT, balita akan menjalani pengukuran berat dan tinggi badan. Data tersebut kemudian digunakan untuk memantau perkembangan kondisi balita selama program.

“Sebelum diberikan PMT juga diukur berat badan, tinggi badan, semuanya. Kemudian dimonitor setiap bulan dan di akhir program kita lihat apakah ada penambahan berat badannya,” pungkas Lilis. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini