Jombang dan Ciputat Krisis Air Bersih, BPBD Tangsel Siaga

Adi Subchan - 31 July 2026

ILUSTRASI - Krisis air bersih di Tangsel meluas. BPBD mencatat 222 KK terdampak dan menyalurkan 126.100 liter air, sementara kekeringan diprediksi hingga September 2026. (Foto: iStockphoto)
ILUSTRASI - Krisis air bersih di Tangsel meluas. BPBD mencatat 222 KK terdampak dan menyalurkan 126.100 liter air, sementara kekeringan diprediksi hingga September 2026. (Foto: iStockphoto)

Krisis air bersih di Tangsel meluas. BPBD mencatat 222 KK terdampak dan menyalurkan 126.100 liter air, sementara kekeringan diprediksi hingga September 2026.

Aktual Tangerang – Krisis air bersih di Kota Tangerang Selatan mulai meluas selama musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 222 kepala keluarga terdampak di 10 titik dan mengantisipasi perluasan hingga Jombang serta Ciputat.

BPBD Tangsel mencatat sembilan titik terdampak berada di Kelurahan Keranggan. Satu titik lainnya berada di Kelurahan Serpong.

Sekretaris BPBD Tangsel, Essa Nugraha, mengatakan total terdapat 222 kepala keluarga terdampak kekeringan.

“Sembilan titik berada di Kelurahan Keranggan, satu titik berada di Kelurahan Serpong. Total terdampaknya 222 kepala keluarga,” kata Essa, Jumat (31/7/2026).

Essa menjelaskan laporan pertama diterima BPBD pada 8 Juli 2026. Sejak itu, jumlah lokasi dan warga terdampak terus bertambah.

BPBD telah menyalurkan 126.100 liter air bersih selama periode 8 hingga 28 Juli 2026. Bantuan diberikan kepada seluruh wilayah terdampak.

Baca Juga :  Daftar Wilayah Tangerang Raya yang Dilanda Krisis Air Bersih

Setiap hari, BPBD mengoperasikan tiga truk tangki. Volume distribusi mencapai sekitar 20.000 hingga 21.000 liter air.

“Rata-rata kami mendistribusikan tiga truk tangki. Hampir setiap hari sekitar 20 sampai 21 ribu liter,” ujar Essa.

BPBD memastikan distribusi air akan terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung.

Berdasarkan proyeksi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan lebih kering. Puncak kekeringan diprediksi terjadi hingga September 2026.

“Diprediksi puncaknya sampai September. BPBD harus terus mendistribusikan air setiap hari hingga kemarau berakhir,” ucap Essa.

Selain Keranggan dan Serpong, BPBD mulai menerima laporan penurunan debit sumur warga di Jombang dan Ciputat.

Kondisi tersebut menjadi indikasi krisis air bersih berpotensi meluas ke wilayah lain di Kota Tangerang Selatan.

“Saya juga mendengar di Jombang dan Ciputat, ketersediaan air sumur warga mulai menipis,” tutur Essa.

Dokumen Kajian Risiko Bencana BPBD Tangsel menempatkan potensi kekeringan pada kategori sedang.

Luas wilayah yang berpotensi terdampak diperkirakan mencapai sekitar 16 ribu hektare.

Jika kemarau terus berlanjut, jumlah wilayah terdampak diperkirakan masih akan bertambah.

Sebelumnya, Komandan Peleton BPBD Tangsel, Dian Wiryawan, menyebut tujuh RT terdampak hingga 20 Juli 2026.

Total sebanyak 147 kepala keluarga mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

BPBD telah menyalurkan 50 ribu liter air selama periode 8 hingga 20 Juli 2026. Distribusi dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

“BPBD dari 8 Juli sampai 20 Juli sudah mendistribusikan total 50 ribu liter air. Pengiriman harian sekitar 5 ribu hingga 13 ribu liter,” kata Dian.

Penyaluran air melibatkan sejumlah instansi. Di antaranya PDAM Tirta Cisadane Serpong, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Cipta Karya, Kelurahan Keranggan, dan BBWS Ciliwung Cisadane.

Baca Juga :  Putusan MK: Dana MBG Tak Boleh Ambil dari Anggaran Pendidikan

Warga Minta Solusi Permanen

Warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan distribusi air setiap musim kemarau.

Riska, warga Kelurahan Keranggan, mengaku keluarganya kesulitan air selama lebih dari satu bulan.

Debit sumur terus menurun sehingga kebutuhan sehari-hari terganggu.

“Air sumur masih ada, cuma sudah tekor. Keluarnya kecil dan sangat lama,” kata Riska.

Ia memilih menggunakan jasa laundry untuk mencuci pakaian.

Riska dan anak-anaknya juga menumpang mandi di rumah orang tuanya. Suaminya bahkan beberapa kali mandi di tempat kerja karena pasokan air di rumah terbatas.

Menurut Riska, kekeringan hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Karena itu, ia berharap pemerintah membangun sumur bor atau fasilitas air bersih bersama.

Langkah tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang bagi warga terdampak. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini