Ketua LAKK MUI dr Bayu Wahyudi menjelaskan risiko medis kaum LGBT dan perilaku seksual berisiko, mulai HIV, sifilis, hingga HPV.
Aktual Tangerang – Isu LGBT kembali menjadi sorotan setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah dan DPR menyusun regulasi tegas. MUI mengusulkan sanksi pidana bagi pelaku dan pihak yang mengampanyekan LGBT.
Selain aspek hukum dan sosial, MUI menyoroti dampak kesehatan dari perilaku seksual berisiko. Penjelasan tersebut disampaikan Ketua Lembaga Advokasi dan Koordinasi Kesehatan MUI, Dr dr H Bayu Wahyudi, SpOG, MPHM, MH, Kes, MM (RS).
Mengutip laman MUI, Minggu (28/6/2026), Bayu menjelaskan berbagai risiko medis akibat perilaku seksual berisiko. Menurutnya, risiko tersebut dapat terjadi pada siapa pun yang melakukan perilaku seksual berisiko, tanpa terbatas pada kelompok tertentu.
“Risiko terbesar berasal dari perilaku seksual berisiko, seperti hubungan anal tanpa kondom dan berganti pasangan seksual,” kata Bayu.
Ia menjelaskan, perilaku tersebut meningkatkan risiko infeksi menular seksual. Penyakit yang dapat menular meliputi HIV, sifilis, gonore, klamidia, hepatitis B, dan hepatitis C.
Selain infeksi, perilaku seksual berisiko juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker akibat infeksi human papillomavirus (HPV). Jenis kanker tersebut meliputi kanker anus, orofaring, dan kanker penis.
Bayu mengatakan perilaku seksual berisiko juga dapat memicu gangguan fisik. Dampaknya meliputi fisura ani, proktitis, abses sekitar anus, hingga inkontinensia tinja.
“Dampak kesehatan tidak hanya berupa infeksi, tetapi juga gangguan fisik yang memerlukan penanganan medis,” ujarnya.
Dari aspek kesehatan mental, Bayu menyebut sejumlah penelitian menunjukkan prevalensi depresi dan gangguan kecemasan lebih tinggi pada populasi LGBT.
Lanjutnya, kondisi tersebut juga berkaitan dengan tekanan psikososial. Faktor pemicunya meliputi stigma, diskriminasi, dan penolakan dari lingkungan.
Menurut Bayu, hubungan seksual melalui anus memiliki risiko penularan infeksi lebih tinggi dibandingkan hubungan seksual melalui vagina.
Ia menjelaskan perbedaan tersebut dipengaruhi struktur anatomi. Dinding rektum lebih tipis dan kaya pembuluh darah dibandingkan dinding vagina.
Akibatnya, jaringan rektum lebih mudah mengalami luka saat penetrasi. Luka tersebut dapat menjadi pintu masuk virus maupun bakteri penyebab penyakit.
“Rektum juga tidak menghasilkan pelumas alami sehingga risiko cedera dan penularan infeksi menjadi lebih tinggi,” jelasnya. (*)








Leave a Reply