Banjir hingga dua meter merendam Keranggan, Tangsel. Warga mengungsi, pemerintah siapkan normalisasi kali dan turap.
Aktual Tangerang – Hujan sehari penuh merendam permukiman di Keranggan, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel). Air naik cepat hingga mencapai ketinggian dua meter.
Genangan merendam rumah warga di Jalan Jogja 2. Kondisi ini terjadi hampir setiap kali hujan deras turun.
Ketua RW 06 Keranggan, Yahya Sunarja, menyebut banjir datang sangat cepat.
“Kalau hujan sehari saja, air bisa naik hingga dua meter,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Banjir memaksa warga meninggalkan rumah mereka. Sekitar 30 kepala keluarga terdampak setiap kejadian.
Total lebih dari 100 jiwa harus mengungsi saat banjir melanda. Mereka mencari tempat aman di sekitar lingkungan.
“Warga mengungsi ke balai warga, posyandu atau rumah tetangga,” kata Yahya.
Banjir juga menimbulkan kerugian besar bagi warga. Rumah rusak dan perabotan tidak lagi dapat digunakan.
“Perabotan, terutama elektronik, pasti rusak dan tidak bisa dipakai,” ujarnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi rumah warga memprihatinkan.bSalah satu rumah tampak kosong dan rusak berat.
Lantai rumah dipenuhi lumpur akibat genangan. Atap terlihat berjamur dan mulai mengelupas.
Dinding rumah mengalami kerusakan cukup parah. Bekas genangan air terlihat jelas di tembok.
Warga menyebut rumah tersebut sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Penghuni sebelumnya tidak sanggup menghadapi banjir berulang.
Yahya mengungkapkan kawasan itu dulunya bebas banjir. Perubahan terjadi setelah pembangunan perumahan sekitar tahun 2010.
“Sebelumnya tidak ada banjir, setelah ada perumahan baru mulai terjadi,” ujarnya.
Ia menduga penyempitan kali menjadi penyebab utama banjir. Selain itu, area resapan air semakin berkurang. “Dulu ada semacam danau yang menampung air,” kata Yahya.
Pemkot Tangsel mulai melakukan penanganan. Upaya dilakukan melalui pembangunan turap dan penyediaan pompa air.
Genangan kini dapat surut lebih cepat dibanding sebelumnya. “Sekarang ada pompa, sehari sudah bisa surut,” ujarnya.
Namun, solusi tersebut dinilai belum menyelesaikan akar masalah. Pendangkalan dan penyempitan kali masih terjadi.
“Normalisasi kali harus dilakukan agar banjir tidak terulang,” tegas Yahya.
Sebagian warga memilih meninggalkan rumah saat musim hujan. Mereka kembali saat kondisi sudah aman. “Ada juga yang sudah pergi permanen karena tidak tahan banjir,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, meninjau lokasi. Ia melihat langsung kondisi aliran kali yang menyempit.
“Hari ini kami meninjau lokasi banjir dan menemukan kendala serius,” ujar Pilar.
Ia menilai drainase tidak berfungsi optimal saat hujan deras. Air akhirnya meluap ke permukiman warga. “Kami instruksikan normalisasi kali dan perbaikan turap,” katanya.
Pilar menyebut pembangunan turap akan difokuskan di titik rawan. Area tersebut berpotensi longsor dan mengalami penyempitan. “Turap akan dibangun sepanjang 100 hingga 150 meter,” ujarnya.
Proyek tersebut ditargetkan mulai dikerjakan tahun ini. Pemerintah berharap dampaknya segera dirasakan warga. “Kami ingin masyarakat tidak lagi waswas saat hujan turun,” kata Pilar.
Selain itu, pompa air akan terus disiagakan. Fungsinya untuk mempercepat surutnya genangan. “Pompa harus selalu siap agar air cepat surut,” ujarnya.
Pemerintah juga mengkaji kemungkinan pembangunan kolam retensi. Ketersediaan lahan masih menjadi pertimbangan utama.
“Yang terpenting memastikan aliran air tidak terhambat,” kata Pilar.
Ia juga menyoroti dampak pembangunan perumahan di sekitar lokasi. Penyempitan saluran air diduga memperparah banjir.
“Kami akan panggil pengembang untuk mencari solusi bersama,” tegasnya.
Koordinasi lintas pihak dinilai penting untuk penanganan jangka panjang. Perbaikan drainase menjadi salah satu fokus utama. “Kami minta ada pelebaran jalur air agar sistem terintegrasi,” ujarnya.
Pilar mengimbau warga menjaga kebersihan lingkungan. Terutama tidak membuang sampah ke saluran air.
“Pemerintah bekerja, tapi masyarakat juga harus mendukung,” katanya. ***









Leave a Reply